Rabu, 30 Desember 2009

Gunung Kawi


Gunung Kawi, terletak di sebelah barat dari Kota Kepanjen Malang berjarak 10 km, merupakan obyek wisata yang perlu untuk dikunjungi bila kita berada di Malang karena keunikannya, obyek wisata ini lebih tepat dijuluki sebagai" kota dipegunungan". Di sini kita tidak akan menemukan suasana gunung yang sepi, tapi justru kita akan disuguhi sebuah pemandangan mirip di negeri tiongkok zaman dulu.

Gunung Kawi populer di kalangan warga Tionghoa ini bisa menjelaskan kenapa Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sangat populer. Kawi bukan gunung tinggi, hanya sekitar 2.000 meter, juga tidak indah. Tapi gunung ini menjadi objek wisata utama masyarakat Tionghoa. Selain itu semua pelayan Pesarean Gunung Kawi juga mengenakan adat pakaian jawa. Semakin menambah suasana yang khas jika kita berada di sini.

Tiap hari ratusan orang Tionghoa [dan warga lain] naik ke Gunung Kawi. Masa liburan plus cuti bersama Lebaran ini sangat ramai. Karena terkait dengan kepercayaan Jawa, Kejawen, maka kunjungan biasanya dikaitkan dengan hari-hari pasaran Jawa: Jumat Legi, Senin Pahing, Syuro, dan Tahun Baru.

Karena itu, warga Jawa Timur kerap mencitrakan Gunung Kawi sebagai tempat pesugihan. Tapi, bagi kalangan kejawen, penggiat budaya Jawa, Gunung Kawi lebih dilihat sebagai tempat pelestarian budaya Jawa. Banyak ritual kejawen diadakan di sini secara teratur dan diikuti aktivis budaya Jawa di seluruh Pulau Jawa.


Mitos Pesugihan

Gunung Kawi memang dikenal sebagai tempat untuk mencari kekayaan (pesugihan). Konon, barang siapa melakukan ritual dengan rasa kepasrahan dan pengharapan yang tinggi maka akan terkabul permintaanya, terutama menyangkut tentang kekayaan. Mitos ini diyakini banyak orang, terutama oleh mereka yang sudah merasakan "berkah" berziarah ke Gunung Kawi. Namun bagi kalangan rasionalis-positivis, hal ini merupakan isapan jempol belaka, dalam bahasa sehari-hari diartikan sebagai cerita bohong, kepalsuan, dan hal-hal yang berbau dongeng (tahayul).


Di dalam bangunan makam, pengunjung tidak boleh memikirkan sesuatu yang tidak baik serta disarankan untuk mandi keramas sebelum berdoa di depan makam. Hal ini menunjukkan simbol bahwa pengunjung harus suci lahir dan batin sebelum berdoa.

Selain pesarean sebagai fokus utama tujuan para pengunjung, terdapat tempat-tempat lain yang dikunjungi karena 'dikeramatkan' dan dipercaya mempunyai kekuatan magis untuk mendatangakan keberuntungan, antara lain:



1. Rumah Padepokan Eyang Sujo



Rumah padepokan ini semula dikuasakan kepada pengikut terdekat Eyang Sujo yang bernama Ki Maridun. Di tempat ini terdapat berbagai peninggalan yang dikeramatkan milik Eyang Sujo, antara lain adalah bantal dan guling yang berbahan batang pohon kelapa, serta tombak pusaka semasa perang Diponegoro.


2. Guci Kuno

Dua buah guci kuno merupakan peninggalan Eyang Jugo. Pada jaman dulu guci kuno ini dipakai untuk menyimpan air suci untuk pengobatan. Masyarakat sering menyebutnya dengan nama 'janjam'. Mungkin ingin menganalogkan dengan air zamzam dari Padang Arafah yang memiliki aneka khasiat. Guci kuno ini sekarang diletakkan di samping kiri pesarean. Masyarakat meyakini bahwa dengan meminum air dari guci ini akan membikin seseorang menjadi awet muda.


3. Pohon Dewandaru



Di area pesarean, terdapat pohon yang dianggap akan mendatangkan keberuntungan. Pohon ini disebut pohon dewandaru, pohon kesabaran. Pohon yang termasuk jenis cereme Belanda ini oleh orang Tionghoa disebut sebagai shian-to atau pohon dewa. Eyang Jugo dan Eyang Sujo menanam pohon ini sebagai perlambang daerah ini aman. Untuk mendapat 'simbol perantara kekayaan', para peziarah menunggu dahan, buah dan daun jatuh dari pohon. Begitu ada yang jatuh, mereka langsung berebut. Untuk memanfaatkannya sebagai azimat, biasanya daun itu dibungkus dengan selembar uang kemudian disimpan ke dalam dompet. Namun, untuk mendapatkan daun dan buah dewandaru diperlukan kesabaran. Hitungannya bukan hanya, jam, bisa berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Bila harapan mereka terkabul, para peziarah akan datang lagi ke tempat ini untuk melakukan syukuran.



Legenda Sejarah Pejuang Diponegoro



Siapakah sesungguhnya Eyang Jugo dan Eyang Sujo, yang dimakamkan dalam satu liang lahat di pesarean Gunung Kawi ini? Menurut Soeryowidagdo (1989), Eyang Jugo atau Kyai Zakaria II dan Eyang Sujonoadalah bhayangkara terdekat Pangeran Diponegoro. Pada tahun 1830 saat perjuangan terpecah belah oleh siasat kompeni, dan Pangeran Diponegoro tertangkap kemudian diasingkan ke Makasar, Eyang Jugo dan Eyang Sujo mengasingkan diri ke wilayah Gunung Kawi ini. Semenjak itu mereka berdua tidak lagi berjuang dengan mengangkat senjata, tetapi mengubah perjuangan melalui pendidikan. Kedua mantan bhayangkara balatentara Pangeran Diponegoro ini, selain berdakwah agama islam dan mengajarkan ajaran moral kejawen, juga mengajarkan cara bercocok tanam, pengobatan, olah kanuragan serta ketrampilan lain yang berguna bagi penduduk setempat. Perbuatan dan karya mereka sangat dihargai oleh penduduk di daerah tersebut, sehingga banyak masyarakat dari daerah kabupaten Malang dan Blitar datang ke padepokan mereka untuk menjadi murid atau pengikutnya.Setelah Eyang Jugo meninggal tahun 1871, dan menyusul Eyang Iman Sujo tahun 1876, para murid dan pengikutnya tetap menghormatinya. Setiap tahun, para keturunan, pengikut dan juga para peziarah lain datang ke makam mereka melakukan peringatan. Setiap malam Jumat Legi, malam meninggalnya Eyang Jugo, dan juga peringatan wafatnya Eyang Sujo setiap tanggal 1 bulan Suro (muharram), di tempat ini selalu diadakan perayaan tahlil akbar dan upacara ritual lainnya. Upacara ini biasanya dipimpin oleh juru kunci makam yang masih merupakan para keturunan Eyang Sujo. Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya membawa bunga sesaji, dan menyisipkan uang secara sukarela. Namun para peziarah yakin, semakin banyak mengeluarkan uang atau sesaji, semakin banyak berkah yang akan didapat. Untuk masuk ke makam keramat, para peziarah bersikap seperti hendak menghadap raja, mereka berjalan dengan lutut. Hingga dewasa ini pesarean tersebut telah banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka bukan saja berasal dari daerah Malang, Surabaya, atau daerah lain yang berdekatan dengan lokasi pesarean, tetapi juga dari berbagai penjuru tanah air. Heterogenitas pengunjung seperti ini mengindikasikan bahwa sosok kedua tokoh ini adalah tokoh yang kharismatik dan populis. Namun di sisi lain, motif para pengunjung yang datang ke pesarean ini pun sangat beragam pula. Ada yang hanya sekedar berwisata, mendoakan leluhur, melakukan penelitian ilmiah, dan yang paling umum adalah kunjungan ziarah untuk memanjatkan doa agar keinginan lekas terkabul.



Ritual dalam Komodifikash Budaya Pada setiap malam Satu Suro (Muharram), area Pesarean Gunung Kawi dikunjungi oleh ribuan orang peziarah dari berbagai kota dan daerah telah berdatangan sejak sore hari. Mereka memenuhi penginapan-penginapan yang memang banyak terdapat di daerah sekitar pesarean (makam). Sambil beristirahat, mereka menunggu saat datangnya tengah malam di mana berbagai upacara ritual akan diselenggarakan. Para pedagang bunga, kemenyan, lilin, hio (dupa) dan perlengkapan sesaji lainnya sibuk melayani para peziarah. Sementara itu beberapa ibu-ibu menggoreng ratusan ekor ayam utuh yang dipesan para peziarah untuk upacara sesaji malam harinya.

Seiring dengan itu pada keesokan harinya diadakan kirab sesaji dan pembakaran patung simbol sangkala (Bathara Kala). Bencana yang terus menerus melanda bumi Indonesia membuat masyarakat prihatin. Sikap prihatin inipun diungkapkan dalam prosesi kirab sesaji di pesarean Eyang Jugo dan Eyang Sujo melalui upacara pembakaran patung sangkala atau ogoh-ogoh. Patung sangkala atau ogoh-ogoh, dikenal sebagai simbol keangkaramurkaan dan malapetaka. Dengan dibakarnya patung ini, diharapkan sifat keangkaramurkaan dan malapetaka bisa lenyap dari bumi pertiwi. Prosesi kirab ini diikuti oleh seluruh elemen masyarakat Wonosari, diawali dengan kirab sesaji dari lapangan desa setempat kemudian diarak berjalan menuju ke pesarean. Di akhir prosesi, patung sangkala dibakar oleh Kepala Desa Wonosari Malang, sementara pengusung patung, yang memakai pakaian serba hitam, menari-nari layaknya kesetanan

Peduli Jasa Leluhur


Leluhur sudah banyak bersusah payah untuk membuka Desa Kepanjen Malang, dengan mengalami tantangan di masanya, dengan membuka hutan belukar sehingga menjadi tempat layak huni manusia.

Kita lihat proses sejarah ibu kota Kabupaten Malang mulai : membuka hutan menjadi tempat sepi - dusun- Desa - kelurahan- Kecamatan- Ibu kota Kabupaten Malang, yang sudah kita lihat akan menjadi kota besar. Tetapi anda tahu siapa yang berjasa itu..?

Maka tidaklah berlebihan jika sekelompok kecil masyarakat peduli perjuanggan Pahlawan. Pada hari Sabtu, 17 Januari 2008 (20 Suro), jam 8 malam - 10 malam, telah dihadiri oleh penulis - teman-teman dari masyarakat generasi muda, sesepuh kepanjen - budayawan Kepanjen (mbah brintik), wartawan dan Juru Kunci Makam mengadakan uri-uri/kirim do'a dengan cara kenduri / tahlil bersama di makam Raden Panji Pulang Jiwo & Proboretno.

Harapan dari Bapak Juru Kunci (Pak No) berkata, "Mudah-mudahan acara ini bisa dilakukan setiap tahun pada bulan suro tanggal 20". Maka kami generasi muda berharap awal uri-uri selamatan ini hanya selesai begitu saja, tanpa bekas. Kami Masyarakat Muda Kepanjen ingin melanggengkan acara ini. Dengan catatan tanpa menyimpang ajaran Agama. amin...

Legenda Sejarah Kepanjen Malang

(Versi Mataram Islam)
Oleh : Agung Cahyo Wibowo

Dalam legenda lokal “Babad Malang” dikisahkan bahwa kala itu Adipati Malang dijabat oleh Ranggo Tohjiwo, saudara Panji Pulang Jiwo – panglima perang Malang yang gugur di dalam pertempuran melawan Mataram. Pusat pemerintahan berada di Pakisharjo, (diperkirkan di Pakisaji Malang) yang kemungkinan berlokasi di lereng barat Gunung Buring (dahulu termasuk Distrik Pakis). Basis pertahanan mempergunakan bekas benteng dari masa awal kerajaan Singosari di Kutho Bedhah, yang berada di tanah membukit dan terlindung oleh tiga aliran sungai (Brantas, Bango dan Amprong). Toponomi “Kutho Bedhah” berarti kota atau benteng kota yang terkoyak oleh serangan musuh. Bentuk topografinya mengingatkan kita pada supit udang (supit urang), terletak di (Kota Malang sekarang).

Kawasan Malang oleh Mataram ditempatkan ke dalam “Mancanegara atau Brang Wetan”, dan dipimpin oleh adipati. Walaupun secara de yure kawasan Malang ditempatkan dalam kekuasaan Mataram, namun sebagaimana halnya penguasa-penguasa lokal lain di mancanegara, Adipati Malang juga memerintah secara semi-otonom. Bahkan, sepeninggal Sultan Agung, penguasa di Malang bermaksud untuk turut memisahkan diri dari kekuasaan Mataram. Oleh karenanya, para penguasa Mataram pengganti Sultan Agung berusaha untuk mereintegrasikan Malang kedalam kekuasaan Mataram.

Pada awal pemerintahan Kasultanan Mataram, yang diperintah oleh Panembahan Senapati, penguasa di Malang menolak tunduk kepada Mataram. Dalam kitab “Babad Tanah Jawi Pesisiran” diberitakan bahwa Adipati Malang dan seluruh adipati di Jawa Timur menolak tunduk pada Mataram. Pasukan Mataram yang dikerahkan oleh Senapati tidak berhasil menundukkan Adipati Malang, dan baru berhasil oleh ekspansi militer pada masa pemerintahan Sultan Agung (1614).

Menurut sesepuh-sesepuh Kepanjen, Babad Kota Kepanjen dibawah keperintahan Kadipaten. Daerah Kabupaten Malang masih menjadi satu belum terbagi menjadi Kota Malang dan Kabupaten, didalam kekuasaan Kerajaan Mataram Islam. Pusat Pemerintahannya Kadipaten Malang yang di perkirakan di Pakishardjo (kemungkinan ditimur pasar Desa Pakisaji Malang).

Sedangkan nama dari Kepanjen dahulunya adalah "Kepanjian", yang mempunyai kata dasar Panji. Menurut artinya adalah sebagai berikut. :
- Panji bisa berarti suatu bendera perang
- Panji adalah suatu tempat berlatihnya suatu prajurit-prajurit
- Panji adalah suatu orang yang gagah berani dan telah berjasa pada Negara,
atau panji ini atas namakan sebagai Nama orang yang berjasa yaitu Raden Panji Pulang Jiwo
Untuk itu cerita tentang asal-usul sejarah Kepanjian akan kami ceritakan sebagai berikut :

Kadipaten Malang berada dipimpin seorang adipati, yang mempunyai anak perempuan bernama Roro Proboretno (masih gadis, sakti dan peparas ayu rupawan), dengan kelebihan ini banyak pemud` mengagumi dan mempersuntingnya, tetapi Roro Proboretno mengiginkan suami yang sakti mondro guna tanpa tanding. Tempat pertapaan Roro Ayu Proboretno berada Gua sungai Amprong (Kota Malang).

Akhirnya Adipati membuka sayembara yaitu yang berbunyi, “Barang siapa yang bisa mengalahkan kesaktian anaknya maka akan menjadi suaminya”. Sayembara ini akhirnya cepat tersebar sampai diluar daerah Kadipaten Malang.

Salah satu punggawa Kadipaten Malang yang bernama Sumolewo, ingin memperistri Raden Proboretno. Sumolewo adalah seorang punggawa kadipaten yang terkenal sakti, mempunyai guru bernama Ki Japar Sodik, gurunya Sumolewo pernah berpesan, “Supaya Sumolewo tidak menikahi Proboretno karena nanti akan dikalahkan oleh seorang yang berasal dari madura, berambut panjang dan seorang kasatria yang masih muda, sakti mandraguna dan tak terkalahkan”.

Karena besar keinginannya untuk memiliki Roro Proboretno maka Sumolewo mencoba untuk menghadang orang yang dimaksud oleh guru Ki Japar Sodik dengan mencegat setiap orang yang akan masuk Kadipaten tepatnya di Malang sebelah utara (Desa Lawang Malang). Setiap orang madura yang mempunyai ciri-ciri yang dipesan gurunya maka dibunuh di tepi sunga (maka sekarang disebut Kali Getih, Kali Sorak).

Raden Panji Pulang Jiwo adalah adipati Sumenep dari Madura, datang ke Kadipaten Malang karena ingin mengikuti sayembara Adipati Proboretno. Karena tahu kalau lewat Desa Lawang maka akan ketemu Sumolewo, maka Raden Panji mencoba lewat Malang sebelah timur adalah tempat pemeliharaan hewan-hewan piaraan kadipaten tempat itu sekarang disebut Kedung Kandang. Pada akhirnya Raden Panji tidak bisa dihadang Sumolewo.

Pada hari yang ditentukan sudah berkumpulah pendekar-pendekar dari segala penjuru daerah, maka pertandingan dimulai dengan aturan siapa yang terakhir memenangkan pertandingan maka akan melawan Roro Proboretno. Setelah pertandingan berlangsung cukup lama maka tinggalah Sumolewo dengan Raden Panji, Pertandingan antara pendekar tangguh ini cukup terjadi cukup sengit dan akhirnya Raden Panji Bulang Jiwo sebagai pemenangnya. diakhirnya pertandingan maka berhadapanlah dengan Pendekar Roro Proboretno. Pertandingan ini seimbang dan pada akhirnya Proboretno terdesak dan akhirnya berlari dengan menunggang kuda untuk bersembunyi di benteng patilasan kerajaan singosari yang tertutup oleh Gerbang yang kuat bagi pertahanan Proboretno. Raden Panji segera mengejar dengan Kudanya yang bernama Sosro Bahu akhirnya diketahuilah persembunyian Proboretno. Maka dengan Turun dari Kuda maka mendekatilah pada gerbang penutup. Karena Kesungguhan dan kesaktian Raden Panji maka Pintu Gerbang bisa dibuka, yang akhirnya Roro Proboretno bisa dikalahkan. (bisa membuka gerbang Benteng makanya disebut kuto bedah kota Malang).

Maka Proses Pernikahan antara Raden Panji Pulang Jiwo dan Proboretno berlangsung dengan Meriah yang dihadiran oleh petinggi kadipaten dan pesta rakyat . Pada masa perkawinan mereka hidup rukun, bahagia dan dianugrahi satu anak laki-laki yang diberi nama Raden Panji Wulung / Raden Panji Saputra. Sikap pasangan ini selalu santun pada siapa saja baik petinggi dan rakyatnya.

Pada pemerintahan kerajaan Mataram, Dalam kitab “Babad Tanah Jawi Pesisiran” diberitakan bahwa Adipati Malang dan seluruh adipati di Jawa Timur menolak tunduk pada Mataram, dengan cara tidak mau mengirim upeti. Karena adipati Malang dianggap makar, maka Raja memerintahkan untuk menghadap ke Mataram, tetapi panggilan ini tidak dihiraukan. Akhirnya Raja Mataram mengirim Pasukannya yang dipimpin oleh Joko Bodho (ini julukan karena peristiwa masuk hutan dihuni harimau putih, karena keberaniannya ini dianggab pemuda Bodho).

Pasukan Malang dipimpin Raden Panji dan Proboretno, Pada akhirnya terjadilah perang besar, dan perang tanding antar Proboretno dengan Joko Bodho, Joko Bodho bisa menancapkan keris ke tubuh Proboretno (pesan pada joko bodo oleh gurunya bahwa, “keris saktinya tidak boleh untuk membunuh perempuan, karena menyebabkan kesaktian keris itu hilang”) pada waktu Proboretno coba diselamatkan, tetapi akhirnya meninggal dalam perjalanan menuju Kadipati, lalu dimakamkan dengan cara Islam yang tempatnya di belakang kantor Diknas Kabupaten Malang di Wilayah Desa Penarukan Kepanjen Malang.

Raden Panji Betapa Marahnya ketika istri tersayang diketahui telah meninggal, maka dikejarlah pasukan musuh, dengan menunggang kuda Sosro Bahu, saat itu banyak pasukan Mataram yang terbunuh. Sisa-sisa pasukan Mataram mencoba bersembunyi di daerah hutan rimba yang bernama Desa Ngebruk, (ada dusun Mataraman Kepanjen Malang).

Akhirnya sisa pasukan Mataram yang bersembunyi bisa diketahui, maka perang tanding antara Raden Panji dan Joko Bodo berlangsung, karena kesaktian keris Joko Bodo sudah hilang ioninya, maka dengan mudah Joko Bodo dibunuh, jenasahnya dimakamkan di dusun Desa Ngebruk dusun Mbodo Pucung Malang.

Raja Mataram mengetahui kekalahan pasukannya dan kesaktian Raden Panji, maka dikirim pasukan lebih besar, tetapi menuju tempat istirahat dan mengatur strategi di suatu pasanggrahan (sekarang bernama desa Sangrahan - Kepanjen Malang).

Raden Panji mendapat tekanan Jiwa yang berat atas kehilangan Proboretna, karena merasa berdosa tidak mampu melindungi istrinya yang sebenarnya harus tinggal di Kadipaten, bukan ikut dalam perang.

Akhirnya perwira-perwira Mataram menemukan strategi jitu, maka dijalankan nya strategi dengan membuat panggung yang disitu di beri seorang putri Mataram yang wajahnya memang mirip dengan Putri Proboretno, yang didepan jalan naik pangung diberi jebakan sumur. (tempat itu sekarang bernama desa Panggung Rejo Kepanjen Malang)

Pada saat itu diundanglah Raden Panji Pulang Jiwo untuk bertemu Putri Proboretno palsu, dengan diiringan lantunan tembang asmarodono, maka datanglah Raden Panji lewat jalan (sekarang Jalan Raya Panji disitu banyak berdiri perkantoran), begitu melihat sosok Putri Proboretno duduk diatas panggung maka langsung mendekat menuju “jalan naik ke atas panggung”, dan masuklah ke jebakan lubang sumur maut, dan langsung puluhan prajurit datang kesumur itu untuk membunuh Raden Panji Pulang Jiwo.

Dalam Pemakaman Raden Panji di tempat Kepanjian / Kepanjen, banyak pejabat kadipaten Malang dan sebagai rakyat berkumpul disuatu tempat untuk bersama-sama menghormati pejuang Malang (Kelayatan Malang) untuk menuju ke pemakaman terakhir Jl. Penarukan Kepanjen  Malang)


ingin membaca versi Japanan........ klik disini 

Jumat, 25 Desember 2009

Cara Cepat Kerja



K A S U S..... Pencari Kerja atau Berkarir 



Lulusan SLTA
Aku siswa yang sudah lulus sekolah SLTA, jurusan IPA dimana materi sekolah aku mengarah pada pengetahuan umum. Aku tidak melanjutkan kuliah karena tidak punya biaya, aku mencoba untuk mencari / melamar pekerja di kantor. Dan Waktu dites oleh Personalia aku ditanyai tentang Ketrampilan Kerja, Pengalaman Kerja dan Kepribadian Diri. Aku mencoba untuk menyelesaikan Tes yang diberikan dengan menjawab kira-kira dan waktu uji praktek aku kerjakan sebisanya....... Aku berusaha untuk tetap menjawabnya. Setelah selesai Tes Aku merasa belum punya kemampuan yang sesuai dengan kebutuan Kantor / Perusahaan.

Lulusan SMK
Aku siswa yang sudah lulus sekolah SMK kejuruan Otomotif, Aku memang punya ketrampilan teknik perbaikan mesin motor. Aku ingin bekerja di perusaan Otomotif tetapi lowongan kerja yang ada tenaga administrasi dan marketing. Kemampuan ku di kebutuhan perusahaan kurang sesuai, karena untuk tenaga ahli perbaikan motor diperlukan pengalaman keraja 2 tahun, aku kan belum punya pengalaman kerja, aku akhirnya batal untuk melamar kerja. Aku harus punya tambahan ketrampilan

Pekerja yang terkena PHK bersama
Aku kerja di Pabrik Funiture yang ekspor produk keluar negeri. Karena kena krisis ekonomi global perusahaaan ku mengalami PHK besar-besaran. Aku memang dapat pesangon, tetapi uang itu habis untuk hidup selama mencari pekerjaan baru, Lamaran yang Aku sebarkan sudah banyak. Karena kemampuan yang saya miliki hanya tukang Finising produk, akhirnya aku tidak bisa memenuhi keperluan tenaga di perusahaan baru. Aku sudah cukup lama menganggur perluakan aku alih keahlian baru/menjadi wirasuasta tetapi modal dan ketrampilan sangat minim.......

Pekerja yang tidak ingin terkena PHK atau digeser
Aku kerja di Kantor sebagai tenaga pembantu umum, karena adanya rotasi dan pemindahan posisi kerja yang arah untuk efisiensi Manajemen Perusahaan. Hatiku semakin was-was kare kemampuanku yang sebegitu-gitu saja walau aku kerja sudah 5 tahun. Aku dengar isu ada pemindahan di bagian baru yaitu adminitrasi yang menggunakan komputer. Aku merasa tidak punya kemampuan itu. aku hanya bisa pasrah mudah-mudahan aku tetap tidak di PHK



Senin, 21 Desember 2009

Batik Kepanjen Malang






by :
Ide Batik Kepanjen dibuat/diproduksi oleh :
Paguyuban Kreatifitas & produksi Java Cultura,
yang dipersembahkan kepada masyarakat kepanjen, sesuai dengan budaya (arek malang)

Batik khas

Posted by: teguhmanurung | October 25, 2009 


Seni Batik secara resmi diakui dunia internasional, melalui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), rebagai bagian dari warisan dunia tak benda. Keputusan ini merupakan formulasi dari hasil sidang UNESCO di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab yang telah dipublikasikan secara global melalui siaran pers di portal UNESCO tertanggal 30 September 2009.
Dengan kata lain, hak cipta Batik kini secara mutlak telah dimiliki oleh Indonesia dan otomatis mengakhiri klaim produk budaya ini yang dilakukan oleh negara tetangga. Untuk merayakan “kemenangan” itu, pada Jumat (2/10), di banyak tempat Batik seketika menjadi seragam resmi setiap manusia Indonesia.
Upaya Pelestarian
Seorang kenalan berkomentar dalam situs jejaring sosial,” Aneh ya rekan-rekan saya ini. Giliran disuruh mengganti kaos oblong dengan kemeja susahnya minta ampun, tetapi pagi ini mereka tanpa perintah dengan kompak mengenakan pakaian serba Batik”. Media massa wadah untuk mengampanyekan “kemenangan” ini. Berbagai surat kabar terbitan Sabtu (3/10) membuat liputan dan menampilkan gambar yang mengekspresikan antusiasme setiap orang untuk mengenakan Batik. Tayangan-tayangan di televisi pada hari yang sama pun menyajikan acara-acara bernuansa Batik. Apakah “kemenangan” ini perlu dirayakan? Ataukah ada tugas besar yang menanti setelah Seni Batik dikukuhkan sebagai warisan budaya dunia?
Secara sederhana, perayaan ini merupakan bentuk dukungan masyarakat terhadap pengakuan dunia internasional terhadap Seni Batik sebagai warisan budaya dunia tak benda milik Indonesia. Dukungan ini penting untuk menyosialisasikan Batik ke lingkup masyarakat pemilik kesenian itu sendiri. Langkah penyosialisasian ini sebenarnya telah dirintis oleh para pejabat pemerintahan yang memerintahkan setiap Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk mengenakan busana Batik setiap Jumat. Momentum pengakuan UNESCO atas Seni Batik yang direspon masyarakat luas dengan pengenaan busana Batik menjadi langkah berikutnya yang bukan saja bertujuan untuk memperkenalkan Batik semata sebagai produ budaya nasional, tetapi juga mengajak masyarakat secara rutin mengenakan busana Batik.
Namun demikian, kedua langkah tersebut belum cukup memadai terutama bila direlasikan dengan predikat Seni Batik sebagai warisan budaya dunia tak benda. Perlu dirumuskan langkah lebih lanjut dan media untuk mengimplementasikan langkah itu, dalam rangka melestarikan Seni Batik di Indonesia. Langkah ini sangat penting, seperti yang telah diperingatkan Arif Havas Oegroseno, konsekuensi pendaftaran sebuah kesenian adalah habisnya masa berlaku hak cipta, 50 tahun setelah penciptanya meninggal. Setelah itu pihak manapun kembali dapat memperebutkan klaim kepemilikan produk budaya itu.
Berbagai upaya yang mengarah pada pelestarian Seni Batik sebenarnya telah dirintis. Prioritas jangka pendek adalah melestarikan keterampilan membatik di berbagai daerah produsen Batik. Untuk itu diperlukan wadah untuk menampung hasil karya para pembatik tersebut. pasar Batik, seperti yang terdapat di Imogiri menjadi solusi kongkrit untuk mencapai tujuan itu. Selain itu, prioritas jangka panjang berfokus pada pengenalan Seni Batik pada generasi muda, terutama anak-anak sekolah. Usaha dari Pemerintah Kabupaten Rembang, Jawa Tengah patut dicontoh. Pemda daerah itu telah mengintegrasikan Seni Batik ke dalam kurikulum pendidikan, baik sebagai muatan lokal maupun kegiatan ekstrakulikuler di jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Potensi Pergeseran Budaya
Di balik pengenaan busana Batik secara masif pada Jumat (2/10), ada sebuah fakta yang tidak mengenakkan, bahwa sebagian besar orang ternyata mengenakan pakaian bermotif Batik bukan Batik tradisional yang diakui UNESCO. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan akan Seni Batik yang menyebabkan banyak pihak melakukan kesalahan yang terkesan sepele itu. Padahal, kenyataan ini berpotensi membahayakan misi pelestarian Seni Batik di Indonesia.
Kesan untuk mengeser Seni Batik sebagai budaya adiluhung ke ranah budaya populer sejak lama telah dibaca oleh Iwan Tirta, perancang sekaligus seniman Batik. Sejak awal, ia tidak mengklasifikasikan Batik printing dan cap yang justru populer di masyarakat, tetapi hanya memasukkan Batik tulis sebagai satu-satunya Seni Batik. Pendapat Iwan Tirta inilah yang sesungguhya sejalan dengan pengakuan dunia internasional yang mengenai Batik Indonesia yang syarat teknik, simbol, dan budaya yang tidak lepas dari kehidupan masyarakat sejak lahir hingga meninggal. Penggunaan malam atau campuran sarang lebah, lemak hewan, dan getah tanaman merupakan sisi keunikan Batik yang membuatnya dinobatkan menjadi salah satu warisan budaya dunia tak benda.
Munculnya kain bercorak Batik, pada sisi lain, menjadi penanda pergeseran budaya itu, juga sinyal bahaya dalam misi pelestarian Batik di Indonesia. Secara nyata, ancaman itu dapat kita lihat ketika membandingkan harga Batik tulis dan Batik cap atau printing. Di daerah Karangtengah, misalnya, harga Batik tulis berada dikisaran Rp 250.000, sedangkan Batik cap hanya Rp 50.000 sampai Rp 100.000. Lebih dari itu, meluasnya pemasaran Batik printing seolah menjadi bom waktu yang siap meledak, menghancurkan produk Batik tulis. Bayangkan saja, selain berharga murah, Batik printing bukan saja diproduksi para pengusaha lokal, tetapi juga didatangkan dari berbagai negara asing, seperti RRC.
Selain itu, usaha untuk mengeser Seni Batik dari lingkup budaya adiluhung ke ranah budaya populer juga berpotensi melesapkan sejarah panjang Kain Batik di Nusantara. Seperti dikatakan Guru Besar Arkeologi UGM, Timbul Haryono, teknik pengolahan kain yang hampir sama dengan Batik sudah ditemukan sejak pengaruh Hindu masuk ke Nusantara pada abad ke-IV Masehi. Kain Batik sendiri semakin populer sejak masa Kerajaan Majapahit dan penyebaran Islam di Nusantara. Bahkan, Kain Batik kemudian menjadi pakaian ekslusif keluarga Kerajaan Mataram Islam. Baru pada akhir abad ke-XVIII dan awal ke-XIX Kain Batik mulai dikenakan rakyat pada umumnya sampai sekarang.
Sebagai produk budaya adiluhung, keindahan Batik tidak saja terlihat dari guratan canting dan malam sebagai pewarna yang membentuk motif kain, tetapi yang lebih penting adalah makna di balik corak batik itu yang merekam filosofi, realitas sosial, dan artefak budaya yang mewakili zaman ketika Kain Batik diproduksi. Bahkan, jika dilihat perspektif diakronik, Batik merupakam media yang merekam silang budaya berbagai peradaban. Itulah sebabnya, sampai sekarang, akulturasi dari pengaruh Hindu-Budha, Islam, dan bahkan Eropa masih dapat dilihat dalam desain Kain Batik.
Oleh sebab itu, menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga dan melestarikan setiap jenis warisan budaya nenek moyang. Jangan sampai pengalaman buruk seputar pengklaiman budaya Nusantara oleh negara-negara tetangga kembali berulang, terutama akibat ketidakpedulian para ahli warisnya.
Jadikan tonggak pengakuan dunia internasional atas Seni Batik sebagai isyarat untuk terus melestarikan setiap kultur bangsa, bukan euforia “ kemenangan”semata yang membuai dan membuat kita lupa akan pentingnya pelestarian budaya bangsa.
Kami bisa menyimpulkan bahwa batik itu perlu dikembangkan oleh siapapun warga negara Indonesia, karena semakin banyak batik yang berupa :
1. Batik Seni
2. Batik Khas

Ini akan memperkaya produk Indonesia yang telah diakui oleh dunia, tetapi bentuk kepedulian kita, masyarakat dan pemerintah dalam merealisasikan seharusnya bagaimana...?

Kopermas


 Komunitas Perupa Malang Selatan   
Pada jaman ini dari kaca mata seni, dunia telah dikuasai oleh ekonomi pasar, semua praktik kehidupan dunia seperti tak lepas kecenderungan itu. Bahkan kekuatan politik yang ditenggarai oleh gemuruh pasar dan gemuruh kapitalis.

Maka Kopermas berkeinginan agar kemampuan dalam idialis Karya betul-betul murni dari hati yang disertai buah karya yang akan diujudkan dalam suatu bentuk dan gambar. Jadi Kesenian adalah dunia kreatifitas, berbagai kemungkinan bisa hadir dan bisa mengarah pada kombinasi karya bagi aktifitas seni yang lain sehingga menambah warna pada peta seni Malang selatan, Malang Raya.

KOPERMAS adalah Sebuah wadah untuk menampung dan menyalurkan aspirasi seni Malang Selatan, tepatnya didaeah kepanjen Kabupaten Malang, Sebuah semangat dari keyakinan para seniman perupa, bahkan segala aktifitas berkesenian bila ditampung dalam wadah yang baik maka akn timbul berlian dan muatiara berharga. Maka semestinya barang yang berharga ini akan memberikan manfaat bagi siapapun yang mengerti.

ART KOPERMAS DEVISION
1.FINE ART GALLERY
2.ART EVEN ORGANIZER
3.ART ADVERTISEMENT
4.ART DIGITAL PRINTING GRAPHICH DESIGN
5.ART PUBLIK RELATION
6.TRANSPORTATION
7.CATERING
8.RECEPTIONIST
9.DISPLAY KARYA & PERLENGKAPAN

Alamat : Galeri Di Jl. Panji Kepanjen (depan kantor Kabupaten Baru)


-----basa malangan----
Ayo bes... Seniman Lukis "kera Nenjap" otowo "Ngalam kidul" diuripno...
supoyo seni "osed nenjap" tambah vareasi... ngonoa bes..

Jumat, 11 Desember 2009

Bahas Tuntas Komputer

Kami Mencoba untuk Menyajikan ilmu-ilmu yang mudah dipahami oleh semua kalangan dengan hanya memilih kelompok menu yang ada dibawah ini :
  1. Arti Komputer
  2. Input Device
  3. Proses Device / Processor / CPU
  4. Output Device
  5. Matheboard
  6. Memory
  7. Chip
  8. CD Rom, DVD Rom
  9. Alat Penyimpanan, I/O Device

Sabtu, 05 Desember 2009

Kerajaan Singosari

Kerajaan dan Raja Besar di Malang
Dikutip dari Buku Peni Suparto : Wasiat Mpu Tantular
Siapapun yang penah belajar sejarah pasti mengetahui latar belakang sosok controversial ini. Namun bisa dipastikan bahwa banyak orang yang menempatkan Ken Arok sebagai seorang pelaku sejarah yang licik, kejam, perusuh dan tepatnya adalah sosok representasi penjahat atau sosok antagonis.
Dalam sejarah Tumapel (sekarang Malang dan sekitarnya) Ken Arok terlepas dari sisi-sisii gelapnya dia adalah seorang figure besar yang memiliki semangat dan cita – cita diri yang melampaui zamannya. Dalam usia masih muda dia sudah bias mengorganisir para pemuda untuk “merampok” upeti Akuwu Tumapel yang hendak didawa ke tanah Daha (Kediri). Hasil rampokan kemudian dikembalikan pada rakyat dan disumbangkan pada biara.
Saat itu Tumapel berada dalam wilayah kekuasaan Daha. Naiknya Tunggul Ametung menjadi Akuwu merupakan intervensi politik dari Sri Baginda Kertajaya yang berkuasa di tanah Daha. Akuwu pun lantas diwajibkan untuk menyetor upeti pada Kediri. Sudah barang tentu Tungul Ametung harus menindas dan memaksa rakyat untuk memenuhi tuntutan upeti dan menghidupkan ribuan prajuritnya.

kanArok besar dalam suasana penindasan sang Akuwu yang bergelar Tunggul Ametung ini. Sebagai seorang pemuda yang sadar maka ia menolak segala bentuk penindasan. Ia juga seorang yang memiliki minat belajar. Dalam banyak keterangan sejarah, ia pernah dididik dalam Biara di bawah bimbingan seorang Brahmana Syiwa yang bernama Danghyang Lohgawe.
Kepribadian Ken Arok yang komplit membuat para Brahmana yang ikut ditindas Akuwu “mengkader” pemuda nakal, liar , progresif dan berani ini untuk melakukan gerakan pembebasan. Buku sejarah banyak mengulas bahwa Tunggul Ametung lengser hanya karena dengan sebatang keris di tangan Ken Arok.
Kudeta Ken Arok merupakan konspirasi pembebasan yang melibatkan agamawan (Brahmana) yang sangat kecewa dengan kepemimpinan kaki tangan Sri Kretajaya tersebut. Tunggul Ametung memang memimpin dengan gaya yang tidak simpatik. Ken Dedes yang banyak dipuja kecantikannya adalah anak seorang Brahmana terkemuka bernama Mpu Parwa. Namun Dedes direnggut oleh Tunggul Ametung untuk diperistri dengan cara yang sangat berlawanan dengan tradisi Biara. Dan ini sangat sensitive I zaman itu.
Pada tahun M, Arok berhasil menumbangkan Tunggul Ametung setelah melewati tahapan scenario yang cukup panjang. Sebelumnya ia menghabisi dahulu pandai besi Emu Gandring. Ini juga menjadi pertanyaan sejarah. Apakah sedemikian kejam ken Arok membunuh Empu Gandring yang berjasa padanya membuatkan keris?
Gandring adalah seorang Pandai besi yang dipercaya sakti mandraguna. Di saat Tumapel sedang tidak stabil Suasana politiknya karena gerakan pemberontakkan Arok, tentu saja ia memiliki ambisi politik tertentu. Gandring memiliki bawahan dan senjata.
Bukan tidak mungkin ia juga ingin menjadi Akuwu bila Tunggul Ametung Lengser. Akhirnya pada titik yang telah diperhitungkan, Arok lalu menikam pandai besi Tumapel ini dengan kerisnya sendiri. Lalu kenapa kitab Paraton tidak menjelaskan serinci ini? Jawabnya, kitab ini dibuat pada zaman setelah Arok berakhir sehingga harus disesuaikan dengan kepentingan raja yang berkuasa, yang belum tentu berpihak pada Arok.
Saat proses kudeta berlangsung, secara mengejutkan terjadi pembunuhan panglima perang Tumapel yaitu Kebo Ijo. Memang ini terkait dengan kudetanya Arok. Kebo Ijo juga berpotensi menggagalkan rencana Arok dalam menjatuhkan Tunggul Ametung karena Kebo Ijo adalah panglima yang memegang kendali langsung terhadap ribuan prajurit tombak maupun pedang. Untuk memuluskan ambisi Arok, peran Kebo Ijo berpihak pada Akuwu harus dihilangkan.
Setelah berhasil menumbangkan Akuwu, Arok mencanangkan paling tidak dua hal. Pertama, menghapus segala penindasan yang dilakukan kepada rakyat para pendahulunya.
Ia menghormati hak rakyat dan kedudukan Brahmana sehingga tidak heran jika ia mendapatkan simpati dan dukungan rakyat Tumapel yang dikemudian hari menjadi kekuatan utama dalam menggulingkan pengusaha Daha Raya (Kediri).
Kedua, Arok menyatakan bahwa Tumapel adalah negeri merdeka. Artinya, ia tidak lagi mengakui kekuasaan Daha Raya yang sedang berjaya menguasai daratan Jawa. Tentu saja Sri Krertajaya murka dan langsung membariskan ribuan prajuritnya untuk menumpas arogansi Tumapel yang dikomandoi Ken Arok. Sebagai seorang pemberani, ia sambut tantangan itu dengan memobilisasi rakyat dan melibatkan kekuatan biara. Perang Ganter pun pecah dan berlangsung sengit.
Mahesa Wulungan yang merupakan saudara Sri Baginda Daha pun tewas dalam perang besar itu. Hal ini menandai kemenangan Arok. Dalam perhitungan sejarah rentang waktu Arok menjatuhkan Tunggul Ametung hingga keberhasilannya menakhlukkan tanah Daha hanya memakan waktu dua tahun (1220-1222 M).
Ini waktu yang sangat singkat dalam mencapai sebuah perubahan. Ketika kretajaya berkuasa, daratan Jawa ini dikuasai. Namun setelah Ken Arok mengalahkanny, maka praktis tanah kekuasaan Daha pun beralih ke Tumapel. Persatuan (integrasi) tanah Jawa sebetulnya telah dimulai dan disesuaikan dengan konteks pada zaman itu.
Arok adalah pemula sebelum lahirnya tokoh – tokoh integrasi yang yang lain. Gerakan pembebasan rakyat yang banyak dibahas orang sekarang telah dimulai oleh Arok sekitar 785 tahun yang silam. Dia tidak mengakui kekuasaan karajaan Daha dan tidak mau mengirim upeti pada Kretajaya.
Ini adalah model perlawanan yang tergolong berani dan meringankan beban rakyat Tumapel. Mendesain diri menjadi pribadi yang jagoan, bersifat ksatria, progresif yang bercita – cita besar padahal ia lahir dari rakyat kebanyakan (kasta Sudra) telah dilakukan oleh Ken Arok.
Generasi muda Indonesia terutama di Malang khususnya jadikanlah militasi ini sebagai roh dalam menuntut ilmu dan implementasinya. Kata “Arek” sendiri besar kemungkinan berasal dari kata “Arok”. Ini adalah ikatan cultural yang luar biasa lekat.

Bhs Khas Malang (Walikan)

diceritakan ulang oleh : Agung Cahyo Wibowo

A. ERA PERJUANGAN
Osob kiwalan kera ngalam (bahasa terbalik arek malang) berasal dari pemikiran para pejuang tempo doeloe yaitu kelompok Gerilya Rakyat Kota (GRK). Bahasa khusus ini dianggap perlu untuk menjamin kerahasiaan, efektifitas komunikasi sesama pejuang selain juga sebagai pengenal identitas kawan ataupun lawan.

Metode pengenalan ini sangat penting karena pada masa Clash II perang kemerdekaan sekitar akhir Maret 1949 Belanda banyak menyusupkan mata-mata di dalam kelompok pejuang Malang. Mata-mata ini banyak yang mampu berkomunikasi dalam bahasa daerah dengan tujuan menyerap informasi dari kalangan pejuang DRK. Penyusupan ini terutama untuk memburu sisa laskar Mayor Hamid Rusdi yang gugur pada 8 Maret 1949 dalam pertempuran dukuh sekar Putih (Desa Wonokoyo sekarang).

Seorang tokoh pejuang Malang pada saat itu yaitu Pak Sahyudi Raharno mempunyai gagasan untuk menciptakan bahasa baru bagi sesama pejuang sehingga dapat menjadi suatu identitas tersendiri sekaligus menjaga keamanan informasi. Bahasa tersebut haruslah lebih kaya dari kode dan sandi serta tidak terikat pada aturan tata bahasa baik itu bahasa nasional, bahasa daerah (Jawa, Madura, Arab, Cina) maupun mengikuti istilah yang umum dan baku. Bahasa campuran tersebut hanya mengenal satu cara baik pengucapan maupun penulisan yaitu secara terbalik dari belakang dibaca kedepan.

Karena keakraban dan pergaulan sehari-hari maka para pejuang dalam waktu singkat dapat fasih menguasai “bahasa” baru ini. Sedangkan lawan dan para penyusup yang tidak setiap hari bergaul dengan sendirinya akan kebingungan dan selalu ketinggalan istilah-istilah baru. Maka siapapun yang tidak fasih mempergunakan osob AREMA ini pasti bukan dari golongan pejuang dan pendukungnya, sehingga kehadiran para penyusup dapat diketahui dengan cepat serta rahasia komunikasi tetap terjaga.

Karena bahasa ini sangat bebas dan longgar aturannya maka pengembangannya sangat luas untuk itu perlu disepakati beberapa istilah penting dikalangan pejuang. Kesepakatan istilah ini diperlukan juga karena banyak kata penting sulit untuk dibaca terbalik sehingga harus dicari istilah dan padanan yang sesuai namun mudah diingat oleh para pelakunya. Contohnya kata ‘Belanda’ dalam bahasa Jawa di sebut ‘Londho’ yang cukup sulit dibaca terbalik, maka dicari istilah padanannya yaitu ‘Nolo’.

Demikian juga dengan ‘Polisi’ bukan menjadi ‘Isilop’ namun cukup ‘Silop’.
Kemudian untuk ‘mata-mata’ bila dibaca terbalik menjadi ‘atam’. Namun untuk menentukan bahwa yang dimaksud dalam istilah tersebut adalah antek Belanda maka ditanbahi kata ‘keat’ dari asal kata ‘Taek’ yang dalam bahasa jawa berarti kotoran. ‘Keat Atam’ atau kotoran mata dalam bahasa jawa disebut ‘ketek’ adalah sebutan yang pas untuk para penyusup ini.

Begitu juga dengan nama peralatan perang seperti senjata genggam karena sulit menemukan istilah yang pas maka dipakai kode samaran ‘Beduk’ dan untuk laras panjang (dowo = panjang dalam bahasa Jawa) disebut ‘benduk owod’ atau disingkat ‘owod’ saja. Sedangkan untuk menunjuk masyarakat suku / etnik tertentu disebut ‘onet’ untuk golongan Cina (asal kata ‘cino’ dalam bahasa Jawa), ‘arudam’ untuk madura, ‘arab’ menjadi ‘bara’ dan seterusnya.

Sedang untuk menyebut diri seseorang digunakan ‘uka’ = aku, ‘ayas’ = saya, ‘umak’ = kamu, ‘okir’ = riko (kamu dalam bahasa madura).
Sedangkan untuk menyebutkan sesuatu yang baik / bagus digunakan istilah ‘nez’ dari asal kata bahasa arab ‘zen’. Begitu pula dalam menyebut orang tua laki-laki (ayah, Bapak) orang arab biasa menyebut dengan ‘abah’ atau ‘sebeh’ yang kemudian menjadi ‘ebes’. Istilah ‘ebes’ kemudian menjadi populer ditunjukan sebagai gelar kehormatan tidak resmi kepada para komandan, pemimpin, atau pembesar dan pemuka masyarakat yang dituakan oleh segenap masyarakat Malang sampai sekarang.

Suyudi Raharno pada September 1949 gugur disergap Belanda di suatu pagi buta dipinggiran wilayah dukuh Genukwatu (Purwantoro sekarang) walaupun keadaan pada saat itu sedang gencatan senjata. Seminggu sebelumnya salah seorang kawan akrabnya yang turut mencetuskan ‘osob kera ngalam’ yaitu Wasito juga gugur dalam pertempuran di Gondangan (Pandanwangi) sekarang.
Saat ini keduanya telah disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Suropati Jalan Veteran Malang.

B. ERA SEKARANG
1. Berkembang di Malang & Kabupaten Malang.
Bahasa khas Arema ini sudah tersebar didaerah malang dan sekitarnya. Misalnya : Lawang, Singosari, Batu, Kepanjen, Tumpang. Itu tampak dari beberapa perkataan mereka yang sesekali menggunakan bahasa Jawa dicampur bahasa Malangan.
Penyebarannya adalah sebagai berikut :
1. Anak-anak, Remaja yang sekolah di SMP, SMA kota Malang
2. Orang Dewasa dalam jual-beli yang menggunakan bahasa Walikan (kelapan) akan mendapat potongan / harga khusus
3. Anak Malang yang berbahasa ini dianggap orang yang sudah gaul/banyak teman/bergengsi, maka semua remaja terutama tahun 70 s/d 2000 an sangat banyak digunakan untuk bahasa sehari-hari.
4. Kelebihan orang malang dalam kenalan terus disambut dengan jawaban walikan ini akan lebih cepat akrap dari pada menggunakan bahasa Indonesia.

Lain lagi para Aremania yang ternyata sudah membumi dengan bahasa Malangan.
Penggunaan bahasa Malangan itu ternyata kerap digunakan. Ini menunjukkan kebanggaan sebagai warga Malang.”Sekitar 80 persen Aremania menerapkan bahasa walikan. Kami malah bangga menggunakan bahasa Malangan ketika sedang tur lama mengikuti pertandingan Arema. Bahasa itu kami gunakan untuk memuji Arema atau mengkritik tim lawan,” kata Agus Kancil, ketua Korwil Aremania Kasin.

Namun kalau dicermati, ternyata ada bahasa yang khas istilah yang asli Malang. Seperti genaro (orang), ebes (orang tua), , daroja (sepeda), dan sebagainya.
Sedangkan yang lainnya walikat nakam (makan), silup (pulisi). Lalu, dari mana munculnya bahasa walikan itu ?
Bahasa walikan yang ini sudah menjadi bahasa gaul tersebut sudah lama digunakan para pejuang di masa sebelum kemerdekaan. Bahasa walikan sudah lama menjadi sandi-sandi khusus para pejuang untuk berkomunikasi dengan para pribumi.

“Ini digunakan untuk mengelabuhi para penjajah di zaman Belanda.
Sebab dengan cara itu , ternyata lebih mudah menjalani hubungan dengan sesama pejuang,” terang pengamat sejarah ini.

Kini bahasa walikan sudah membaur menjadi satu dengan bahasa Malangan.
Bahkan,
Kini sudah menjadi trade mark warga Malang.” Bahasa Malang kini sudah menjadi bahasa dari berbagai kalangan. Tidak hanya yang muda. Yang tua pun masih awet menggunakannya. Bahkan, bahasa walikan ini bisa mempererat hubungan persaudaraan,” tutur Dwi.

2. Bahasa Arema Juga Berkembang Di Luar Kota Antar Propinsi


Bahasa khas Arema ini sudah berkembang di daerah Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan bahkan luar propinsi. contohnya : Kalimantan, Sulawesi di daerah proyek-proyek
Kamus Arema


Julukan orang
Aku = Ayes
Kamu = Umak
Teman = Kera

Adik perempuan = Kida kodew
Adik laki-laki = Kida nganal

Saudara laki-laki = Sam
Saudara perempuan = Mbak

Orang tua laki-laki = Ebes nganal (bokab)
Orang tua perempuan = Ebes kodew (nyokab)
Saudara yang lebih tua atau dihormati Ebes atau bos

Kata Benda
Sepeda = Adapes
Mobil = Libom
Motor = Rotom
uang = Ojir, raijo

Kata Kerja
Makan = Nakam
Tidur = Rudit
Jalan-jalan = Uklam-uklam, klinong-klinong

Lain-lain
Tidak = Kadit
Ya = Oyi
Seneng = nes
Ngerti = Itreng
Kiri = iwok
Kanan = tengen
Bahasa = osob
Maling = ngilam
Pulang = ngalup
Pergi = Cabut
Merokok = ngoker
Mabuk = kubam
Ikut = kolem
Membayar = Rayab
Kasian = Naisak
Nikah = Ibar
Tidur = Rudit
Anak buah = kana haub
Masuk = Ublem
Keluar = Utem
Bisa = Osi
dll

----Osob Ngalam----
Osob malangan iki ayes tulis asli tekan buku sejarah indonesia sing tak selang (pinjam) tekan pensiunan kapten PM ebes Marsum, lor pasar nenjap ngalam ( kepanjen malang ), terus wonge waktu perang Clas lando tugase ancen nok Ngalam.... Innalilahi wainainnalillahi roji'un, ebes Marsum iki wis ketam (matek = almarhum) tahun 2009, penghargaane akeh lo... sampak 20 bintang jasa. iki lo.... hebat.

Kerajaan Kanjuruhan

diceritakan oleh : Agung Cahyo Wibowo

Kerajaan Kanjuruhan
CIKAL BAKAL KERAJAAN DI MALANG


Pada kisaran abad VII, Malang adalah sebuah teritorial integrasi yang cukup maju di zamannya. Piagam Dinoyo, piagam tertua di Jawa Timur yang berbahasa Sansekerta dengan aksara Jawa Kuno memberi arti penting bagi silsilah sejarah Malang. Pada masa itu tradisi penulisan prasasti telah dikenal oleh dinasti Kanjuruhan yang dipimpin oleh “putra” Dewa Simba yang bernama Gajayana.

Situs Kanjuruhan meliputi daerah Karang Besuki, Karang Dinoyo, Kejuron, Mertojoyo, dan Merjosari. Nama Kanjuruhan sendiri berasal dari kata Juruh yang artinya getah enau. Pemberian nama Kanjuruhan memiliki latar simbolik, bahwa kerajaan yang dipimpin oleh Limwa atau Gajahyana itu memiliki kaitan dengan kerajaan Bogor Pradah (pohon enau bersalut emas) milik ayahandanya yakni Dewa simha yang situs pen-dharma-annya terletek di dusun Bogor Pradah, Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri.


Berita Cina Dari Dinasti Tang
Keberadaan Kerajaan Kanjuruhan dapat dikaitkan dengan berita – berita Cina dari Dinasti Tang yang menyebutkan bahwa di Jawa dewasa itu terdapat Kerajaan Kalingga atau Holing, diman raja hidup di kota Chopo’o, tetapi salah seorang nenek moyangnya. Bernama Kiyen, pernah memindahkan tahtanya ke sebelah timur, yaitu P’olouk’i-asseu.

Topinim Chopo’o ssendiri mengingatkan kita pada kata Kepu (ng) yakni kota Kecamatan di mana Dusun Bogor Pradah yang terletak di Desa Sima (an) berada. Sedang nama Kalingga atau Holing merujuk pada toponim Keling yakni sebuah desa di sebelah barat desa Kepung.

Sementara nama P’olouk’iasseu menunjuk pada toponim Waharu Gasek (nama Waharu kemudian hilang tetapi sempat disebutkan dalam prasasti Waharu yang ditemukan dekat Karang Besuki, dan yang tersisa hanya toponim Gasek tempat dimana candi Badut terletak). Sedang gelar Kiyen menurut berita Tang yang disandang raja tampaknya merujuk pada gelar khas yang lazim digunakan para bangsawan di daerah Malang hingga abad ke 13 seperti terpateri pada nama Ken Arok, Ken Endok, Ken Dedes, Ken Umang. Dengan demikian, jelaslah bahwa tokoh nenek moyang raja Kalingga atau Holing yang memindahkan Ibukota ke sebelah timur sebagaimana dimaksud berita dari Dinasti Tang adalah Gajahyana.

W.J van der Meulen (1988)
menyebutkan bahwa berdasar sumber– sumber Tionghoa lainnya, perpindahan ibukota kerajaan Kalingga atau Holing terjadi antara tahun 742 hingga 755. Penetapan tahun itu bertepatan dengan masa dimana Gajahyana hidup. Ini, berarti, sepeninggal Dewasimha, Gajayana meningggalkan Ibukotanya dari sebelah barat Gunung Kelud ke sebelah Timur Gunung Kawi. Selanjutnya W.J van der Meulen berpendapat, perpindahan itu berkaitan dengan serangan angin ribut (Sanjaya) yang menampar dari arah barat. Pemindahan Keraton dari Bogor Pradah di barat ke Kanjuruhan di timur dibawah ini merupakan strategi terbaik Gajayana, terutama jika hal itu dikaitkan dengan letak geografis Kanjuruhan yang berada di wilayah Tumapel yang dipagari barisan gunung.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, sebelum mendirikan keraton Kanjuruhan, Gajayan berkeratin di Bogor Pradah, tetapi karena berlindung dari serangan Sanjaya yang berasal dari barat, maka Gajayana memindahkan keratonnya ke sebelah timur yakni di Kanjuruhan. Dengan demikian, nama juruh dan bogor memiliki kaitan simbolik. Tetapi keturunan Gajayana kemudian memindahkan lagi keratonnya ke sebelah barat yakni di Chopo’o atau Kepu (ng).


Ditulis Oleh ANANA, Cucu Raja Gajayana
Keberadaan kerajaan Kanjuruhan sendiri diketahui berdasar inskripsi dari prasasti yang ditulis oleh Anana, cucu raja Gajayana. Prasati itu ditulis dengan huruf kawi tetapi berbahasa Sansekerta. Menurut terjemahan F.D.K. Bosch dalam De Sanskritinscriptie op den steen van Dinaya, terjemahan Prasati Dinoyo adalah sebagai berikut:

“Kemuliaan di tahun saka 682 yang telah berlalu ada seorang raja bijaksana dan berkuasa Dewa-simha di bawah lindungannya api putukecwarayang menyebar sinar di sekelilingnya Juga Limwa puteranya yang bergelar Gajayana melindungi manusia bagaikan anaknya Ketika ayahandanya marak ke langit Limwa melahirkan anak perempuan Uttejana namanya dan dia adalah permaisuri raja Pradaputra dia juga ibu Anana yang bijaksana cucu Gajayana orang selalu berbuat baik terhadap kaum Brahmana dan pemuja Agastya tuan yang dilahirkan dari Tempayan

Ananah yang menyuruh penduduk dan banyak orang penting untuk membangun kediaman yang indah untuk Agastya yang Agung dan Suci untuk menghancurkan kekuatan musuh. Sesudah itu dia melihat patung Kalacaya dari kayu cendana yang dibuat leluhurnya dan tak boleh dipandang lebih lama diapun dengan segera memerintahkan kepada seorang seniman untuk membuat arca resi yang sama dari batu hitam/ yang keindahannya sangat menakjubkan

Bertolak dari bunyi Dinasti Tang dan Prasati Dinoyo, maka diketahui bahwa Karajaan Kanjuruhan didirikan oleh Limwa atau Gajayana sebagai kelanjutan dari kerajaan kalingga atau Holing yang berkeraton di Bogor Pradah, Sima (an), Kepu (ng), Kediri. Pelanjut Gajayana adalah Uttejana, puteri Gajayana yang menikah dengan anak lelaki Pradah Putera. Uttejana digantikan oleh Anana dimana pada masa pemerintahan Anana inilah candi Badut dan Prasasti Dinoyo dibuat yakni sekitar tahun 760 Masehi.

Menurut catatan Dinasti Tang, raja Kalingga atau Holing mengirim utusan ke kaisar pada 766 dan 779 yakni masa yang sama dengan masa kekuasaan Anana. Dengan demikian, Raja Kalingga atau Holing yang diberitakan Dinasti Tang hidup di kota Chopo’o atau Kepu (ng) adalah keturunan dari Anana.

Sebuah legenda menceritakan sejarah merawikan bahwa kekuasaan yang dipimpin Prabu Gajayana disucikan oleh sang Putikecrawa atau Mahadewa Syiwa.

Selain piagam Dinoyo, banyak lagi peninggalan sejarah yang mengindikasikan tingginya peradaban dan epik sejarah Malang. Seperti, Candi Badut yang ada pahatan Mahakala, Nadicwara, Arca Agastya, Piagam Muncang, Arca Ganesya, piagam Sukun dan lain-lainnya.

Menelusuri peta kekuasaan di tanah Jawa tidak dapat dilepaskan dari sejarah dan perkembangan ajaran Hindu dan Buddha yang dibawa oleh para Wangsa Mataram di Kedu dan Wangsa Sailendra. Gelombang kekuasaan Hindu berhembus dari arah Barat yang akhirnya menguasai seluruh daratan Jawa. Empu Sendok yang merintis berdirinya Kerajaan Medaeng (Medang) penuh dengan misi perubahan yang berlatar Hindu. Dalam perkembangannya kemudian, Kahuripan lahir sebagai wuri kerajaan Medaeng, memperbaharui implementasi tata kasta yang saat itu meminggirkan peran mayoritas rakyat, terutama kaum tani dan nelayan. Implementasi pembaharuan itu mengukuhkan seorang sosok pembangun yang dikenal dalam sejarah sebagai seorang pembebas yang bernama Sri Erlangga. Tidak heran bila burung garuda (tunggangan Dewa Wisnu) di identikkan juga dengan Erlangga. Misi ‘Magna Carta’ yang ia cetuskan dipandang seiring dengan harapan masyarakat pada konteks peradaban manusia kala itu. Tampakanya factor ini juga yang mengharuskan Malang berada dalam pengaruh Wangsa Isyana.

Timbulnya karajaan Kanjuruhan tersebut, oleh para ahli sejarah dipandang sebagai tonggak awal pertumbuhan pusat pemerintahan yang sampai saat ini, setelah 12 abad berselang, telah berkembang menjadi Kota Malang. Tahun penemuan Prasati abad 7 ini yang dipakai sebagai Hari jadi Kabupaten Malang, yang sekarang sudah berusia 1249 tahun. Dan dari Nama Raja Gajayana, Kerajaan Kanjuruhan banyak digunakan simbul-simbul kemegahan bangunan Kabupaten Malang / Kota Malang.



Jumat, 04 Desember 2009

SEJARAH BENDERA MERAH PUTIH

oleh : PustakaIndonesia.com

Bila kita melihat deretan bendera yang dikibarkan dari berpuluh-puluh bangsa di atas tiang, maka terlintas di hati kita bahwa masing-masing warna atau gambar yang terdapat di dalamnya mengandung arti, nilai, dan kepribadian sendiri-sendiri, sesuai dengan riwayat bangsa masing-masing. Demikian pula dengan bendera merah putih bagi Bangsa Indonesia. Warna merah dan putih mempunyai arti yang sangat dalam, sebab kedua warna tersebut tidak begitu saja dipilih dengan cuma–cuma, melainkan melalui proses sejarah yang begitu panjang dalam perkembangan Bangsa Indonesia.

Disini penulis Kepanjen Online menghubungkan kepada proses sejarah bendera Indonesia merah-putih dengan cerita sejarah di Kepanjen Malang.

--------------------------------------------------------------------------------------

1. Menurut sejarah, Bangsa Indonesia memasuki wilayah Nusantara ketika terjadi perpindahan orang-orang Austronesia sekitar 6000 tahun yang lalu datang ke Indonesia Timur dan Barat melalui tanah Semenanjung dan Philipina. Pada zaman itu manusia memiliki cara penghormatan atau pemujaan terhadap matahari dan bulan. Matahari dianggap sebagai lambang warna merah dan bulan sebagai lambang warna putih. Zaman itu disebut juga zaman Aditya Candra. Aditya berarti matahari dan Candra berarti bulan. Penghormatan dan pemujaan tidak saja di kawasan Nusantara, namun juga di seluruh Kepulauan Austronesia, di Samudra Hindia, dan Pasifik.

2. Sekitar 4000 tahun yang lalu terjadi perpindahan kedua, yaitu masuknya orang Indonesia kuno dari Asia Tenggara dan kemudian berbaur dengan pendatang yang terlebih dahulu masuk ke Nusantara. Perpaduan dan pembauran inilah yang kemudian melahirkan turunan yang sekarang kita kenal sebagai Bangsa Indonesia.

Pada Zaman itu ada kepercayaan yang memuliakan zat hidup atau zat kesaktian bagi setiap makhluk hidup yaitu getah-getih. Getah-getih yang menjiwai segala apa yang hidup sebagai sumbernya berwarna merah dan putih. Getah tumbuh-tumbuhan berwarna putih dan getih (dalam Bahasa Jawa/Sunda) berarti darah berwarna merah, yaitu zat yang memberikan hidup bagi tumbuh-tumbuhan, manusia, dan hewan. Demikian kepercayaan yang terdapat di Kepulauan Austronesia dan Asia Tenggara.

Pada permulaan masehi selama 2 abad, rakyat di Kepulauan Nusantara mempunyai kepandaian membuat ukiran dan pahatan dari kayu, batu, dan lainnya, yang kemudian ditambah dengan kepandaian mendapat pengaruh dari kebudayaan Dong Song dalam membuat alat-alat dari logam terutama dari perunggu dan besi. Salah satu h`sil yang terkenal ialah pembuatan gendering besar dari perunggu yang disebut nekara dan tersebar hampir di seluruh Nusantara. Di Pulau Bali gendering ini disebut Nekara Bulan Pajeng yang disimpan dalam pura. Pada nekara tersebut diantaranya terdapat lukisan orang menari dengan hiasan bendera dan umbul-umbul dari bulu burung. Demikian juga di Gunung Kidul sebelah selatan Yogyakarta terdapat kuburan berupa waruga dengan lukisan bendera merah putih berkibar di belakang seorang perwira menunggang kerbau, seperti yang terdapat di kaki Gunung Dompu.


Sejak kapan bangsa-bangsa di dunia mulai memakai bendera sebagai identitas bangsanya? Berdasarkan catatan sejarah dapat dikemukakan bahwa awal mula orang menggunakan bendera dimulai dengan memakai lencana atau emblem, kemudian berkembang menjadi tanda untuk kelompok atau satuan dalam bentuk kulit atau kain yang dapat berkibar dan mudah dilihat dari jauh. Berdasarkan penelitian akan hasil-hasil benda kuno ada petunjuk bahwa Bangsa Mesir telah menggunakan bendera pada kapal-kapalnya, yaitu sebagai batas dari satu wilayah yang telah dikuasainya dan dicatat dalam daftar. Demikian juga Bangsa Cina di zaman kaisar Chou tahun 1122 sebelum masehi.

Bendera itu terikat pada tongkat dan bagian puncaknya terdapat ukiran atau totem, di bawah totem inilah diikatkan sepotong kain yang merupakan dekorasi. Bentuk semacam itu didapati pada kebudayaan kuno yang terdapat di sekitar Laut Tengah. Hal itu diperkuat juga dengan adanya istilah bendera yang terdapat dalam kitab Injil. Bendera bagi raja tampak sangat jelas, sebab pada puncak tiang terdapat sebuah symbol dari kekuasaan dan penguasaan suatu wilayah taklukannya. Ukiran totem yang terdapat pada puncak atau tiang mempunyai arti magis yang ada hubungnnya dengan dewa-dewa. Sifat pokok bendera terbawa hingga sekarang ini.
Pada abad XIX tentara napoleon I dan II juga menggunakan bendera dengan memakai lambang garuda di puncak tiang. Perlu diingat bahwa tidak semua bendera mempunyai arti dan ada hubungannya dengan religi. Bangsa Punisia dan Yunani menggunakan bendera sangat sederhana yaitu untuk kepentingan perang atau menunjukkan kehadiran raja atau opsir, dan juga pejabat tinggi negara. Bendera Yunani umumnya terdiri dari sebuah tiang dengan kayu salib atau lintang yang pada puncaknya terdapat bulatan. Dikenal juga perkataan vaxillum (kain segi empat yang pinggirnya berwarna ungu, merah, atau biru) digantung pada kayu silang di atas tombak atau lembing.

Ada lagi yang dinamakan labarum yang merupakan kain sutra bersulam benang emas dan biasanya khusus dipakai untuk Raja Bangsa Inggris menggunakan bendera sejak abad VIII. Sampai abad pertengahan terdapat bendera yang menarik perhatian yaitu bendera “gunfano” yang dipakai Bangsa Germania, terdiri dari kain bergambar lencana pada ujung tombak, dan dari sinilah lahir bendera Prancis yang bernama “fonfano”.

Bangsa Viking hampir sama dengan itu, tetapi bergambar naga atau burung, dikibarkan sebagai tanda menang atau kalah dalam suatu pertempuran yang sedang berlangsung. Mengenai lambang-lambang yang menyertai bendera banyak juga corak ragamnya, seperti Bangsa Rumania pernah memakai lambang burung dari logam, dan Jerman kemudian memakai lambang burung garuda, sementara Jerman memakai bendera yang bersulam gambar ular naga.

Tata cara pengibaran dan pemasangan bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung, kibaran bendera putih sebagai tanda menyerah (dalam peperangan) dan sebagai tanda damai rupanya pada saat itu sudah dikenal dan etika ini sampai sekarang masih digunakan oleh beberapa Negara di dunia.

3. Pada abad VII di Nusantara ini terdapat beberapa kerajaan. Di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan pulau-pulau lainnya yang pada hakikatnya baru merupakan kerajaan dengan kekuasaan terbatas, satu sama lainnya belum mempunyai kesatuan wilayah. Baru pada abad VIII terdapat kerajaan yang wilayahnya meliputi seluruh Nusantara yaitu Kerajaan Sriwijaya yang berlangsung sampai abad XII. Salah satu peninggalannya adalah Candi Borobudur , dibangun pada tahun 824 Masehi dan pada salah satu dindingnya terdapat “pataka” di atas lukisan dengan tiga orang pengawal membawa bendera merah putih sedang berkibar. Kata dwaja atau pataka sangat lazim digunakan dalam kitab jawa kuno atau kitab Ramayana. Gambar pataka yang terdapat pada Candi Borobuur, oleh seorang pelukis berkebangsaan Jerman dilukiskan dengan warna merah putih. Pada Candi Prambanan di Jawa Tengah juga terdapat lukisan Hanoman terbakar ekornya yang melambangkan warna merah (api) dan warna putih pada bulu badannya. Hanoman = kera berbulu putih. Hal tersebut sebagai peninggalan sejarah di abad X yang telah mengenal warna merah dan putih.

Prabu Erlangga, digambarkan sedang mengendarai burung besar, yaitu Burung Garuda yang juga dikenal sebagau burung merah putih. Denikian juga pada tahun 898 sampai 910 Raja Balitung yang berkuasa untuk pertama kalinya menyebut dirinya sebagai gelar Garuda Muka, maka sejak masa itu warna merah putih maupun lambang Garuda telah mendapat tempat di hati Rakyat Indonesia.

4. Kerajaan Singosari berdiri pada tahun 1222 sampai 1292 setelah Kerajaan Kediri, mengalami kemunduran. Raja Jayakatwang dari Kediri saat melakukan pemberontakan melawan Kerajaan Singosari di bawah tampuk kekuasaan Raja Kertanegara sudah menggunakan bendera merah – putih , tepatnya sekitar tahun 1292. Pada saat itu tentara Singosari sedang dikirim ke Semenanjung Melayu atau Pamelayu. Jayakatwang mengatur siasat mengirimkan tentaranya dengan mengibarkan panji – panji berwarna merah putih dan gamelan kearah selatan Gunung Kawi. Pasukan inilah yang kemudian berhadapan dengan Pasukan Singosari, padahal pasukan Singosari yang terbaik dipusatkan untuk menghadang musuh di sekitar Gunung Penanggungan. Kejadian tersebut ditulis dalam suatu piagam yang lebih dikenal dengan nama Piagam Butak. Butak adalah nama gunung tempat ditemukannya piagam tersebut terletak di sebelah selatan Kota Mojokerto. Pasukan Singosari dipimpin oleh R. Wijaya dan Ardaraja (anak Jayakatwang dan menantu Kertanegara). R. Wijaya memperoleh hadiah sebidang tanah di Desa Tarik, 12 km sebelah timur Mojokerto. Berkibarlah warna merah – putih sebagai bendera pada tahun 1292 dalam Piagam Butak yang kemudian dikenal dengan piagam merah – putih, namun masih terdapat salinannya. Pada buku Paraton ditulis tentang Runtuhnya Singosari serta mulai dibukanya Kerajaan Majapahit dan pada zaman itu pula terjadinya perpaduan antara Ciwaisme dengan Budhisme.

5. Demikian perkembangan selanjutnya pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, menunjukkan bahwa putri Dara Jingga dan Dara Perak yang dibawa oleh tentara Pamelayu juga mangandung unsur warna merah dan putih (jingga=merah, dan perak=putih). Tempat raja Hayam Wuruk bersemayam, pada waktu itu keratonnya juga disebut sebagai keraton merah – putih, sebab tembok yang melingkari kerajaan itu terdiri dari batu bata merah dan lantainya diplester warna putih. Empu Prapanca pengarang buku Negarakertagama menceritakan tentang digunakannya warna merah – putih pada upacara kebesaran Raja Hayam Wuruk. Kereta pembesar – pembesar yang menghadiri pesta, banyak dihiasi merah – putih, seperti yang dikendarai oleh Putri raja Lasem. Kereta putri Daha digambari buah maja warna merah dengan dasar putih, maka dapat disimpulkan bahwa zaman Majapahit warna merah – putih sudah merupakan warna yang dianggap mulia dan diagungkan. Salah satu peninggalan Majapahit adalah cincin warna merah putih yang menurut ceritanya sabagai penghubung antara Majapahit dengan Mataram sebagai kelanjutan. Dalam Keraton Solo terdapat panji – panji peninggalan Kyai Ageng Tarub turunan Raja Brawijaya yaitu Raja Majapahit terakhir. Panji – panji tersebut berdasar kain putih dan bertuliskan arab jawa yang digaris atasnya warna merah. Hasil penelitian panitia kepujanggaan Yogyakarta berkesimpulan antara lain nama bendera itu adalah Gula Kelapa . dilihat dari warna merah dan putih. Gula warna merah artinya berani, dan kelapa warna putih artinya suci.

6. Di Sumatra Barat menurut sebuah tambo yang telah turun temurun hingga sekarang ini masih sering dikibarkan bendera dengan tiga warna, yaitu hitam mewakili golongan penghulu atau penjaga adat, kuning mewakili golongan alim ulama, sedangkan merah mewakili golongan hulu baling. Ketiga warna itu sebenarnya merupakan peninggalan Kerajaan Minang pada abad XIV yaitu Raja Adityawarman. Juga di Sulawesi di daerah Bone dan Sopeng dahulu dikenal Woromporang yang berwarna putih disertai dua umbul – umbul di kiri dan kanannya. Bendera tersebut tidak hanya berkibar di daratan, tetapi juga di samudera , di atas tiang armada Bugis yang terkenal. Bagi masyarakat Batak terdapat kebudayaan memakai ulos semacam kain yang khusus ditenun dengan motif tersendiri. Nenek moyang orang Batak menganggap ulos sebgai lambang yang akan mendatangkan kesejahteraan jasmani dan rohani serta membawa arti khusus bagi yang menggunakannya. Dalam aliran animisme Batak dikenal dengan kepercayaan monotheisme yang bersifat primitive, bahwa kosmos merupakan kesatuan tritunggal, yaitu benua atas dilambangkan dengan warna merah dan benua bawah dilambangkan dengan warna hitam. Warna warna ketiga itu banyak kita jumpai pada barang-barang yang suci atau pada hiasan-hiasan rumah adat. Demikian pula pada ulos terdapat warna dasar yang tiga tadi yaitu hitam sebagai warna dasar sedangkan merah dan putihnya sebagai motif atau hiasannya. Di beberapa daerah di Nusantara ini terdapat kebiasaan yang hampir sama yaitu kebiasaan memakai selendang sebagai pelengkap pakaian kaum wanita. Ada kalanya pemakaian selendang itu ditentukan pemakaiannya pada setiap ada upacara – upacara, dan sebagian besar dari moti-motifnya berwarna merah dan putih.

7. Ketika terjadi perang Diponegoro pada tahun 1825-1830 di tengah – tengah pasukan Diponegoro yang beribu – ribu juga terlihat kibaran bendera merah – putih, demikian juga di lereng – lereng gunung dan desa - desa yang dikuasai Pangeran Diponegoro banyak terlihat kibaran bendera merah - putih. Ibarat gelombang samudera yang tak kunjung reda perjuangan Rakyat Indonesia sejak zaman Sriwijaya, Majapahit, putra – putra Indonesia yang dipimpin Sultan Agung dari Mataram, Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten, Sultan Hasanudin, Sisingamangaraja, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Pangeran Antasari, Pattimura, Diponegoro dan banyak lagi putra Indonesia yang berjuang untuk mempertahankan kedaulatan bangsa, sekalipun pihak penjajah dan kekuatan asing lainnya berusaha menindasnya, namun semangat kebangsaan tidak terpadamkan.

Pada abad XX perjuangan Bangsa Indonesia makin terarah dan menyadari akan adanya persatuan dan kesatuan perjuangan menentang kekuatan asing, kesadaran berbangsa dan bernegara mulai menyatu dengan timbulnya gerakan kebangsaan Budi Utomo pada 1908 sebagai salah satu tonggak sejarah.

Kemudian pada tahun 1922 di Yogyakarta berdiri sebuah perguruan nasional Taman Siswa dibawah pimpinan Suwardi Suryaningrat. Perguruan itu telah mengibarkan bendera merah putih dengan latar dasar warna hijau yang tercantum dalam salah satu lagu antara lain : Dari Barat Sampai ke Timur, Pulau-pulau Indonesia, Nama Kamu Sangatlah Mashur Dilingkungi Merah-putih. Itulah makna bendera yang dikibarkan Perguruan Taman Siswa.
Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang – pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran.
Para mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia yang berada di Negeri Belanda pada 1922 juga telah mengibarkan bendera merah – putih yang di tengahnya bergambar kepala kerbau, pada kulit buku yang berjudul Indonesia Merdeka. Buku ini membawa pengaruh bangkitnya semangat kebangsaan untuk mencapai Indonesia Merdeka.

Demikian seterusnya pada tahun 1927 berdiri Partai Nasional Indonesia dibawah pimpinan Ir. Soekarno yang bertujuan mencapai kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia. Partai tersebut mengibarkan bendera merah putih yang di tengahnya bergambar banteng.

Kongres Pemuda pada tahun 1928 merupakan detik yang sangat bersejarah dengan lahirnya “Sumpah Pemuda”. Satu keputusan sejarah yang sangat berani dan tepat, karena kekuatan penjajah pada waktu itu selalu menindas segala kegiatan yang bersifat kebangsaan. Sumpah Pemuda tersebut adalah tidak lain merupakan tekad untuk bersatu, karena persatuan Indonesia merupakan pendorong ke arah tercapainya kemerdekaan. Semangat persatuan tergambar jelas dalam “Poetoesan Congres Pemoeda – Pemoeda Indonesia” yang berbunyi :

Pertama :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE
BERTOEMPAH DARAH YANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

Kedua :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE
BERBANGSA YANG SATOE, BANGSA INDONESIA
 

Sponsor 1

Sponsor 1
*************** click ****************

Sponsor 2

Sponsor 2
*************** click ****************

Sponsor 3

Sponsor 3
*************** click ****************

Sponsor 4

Sponsor 4
Belum tuntas belajar MS-office : word, excel, power point, access... klik.......