Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

12/02/16

Arca Singa Baru Ditemukan di Malang


Kemungkinan Masa Kerajaan Kanjuruhan


Sebuah arca singa stambha ditemukan nyaris terkubur di lahan perumahan di Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Arca setinggi 117 centimeter, lebar 60 centimeter dan tebal 50 centimeter itu ditemukan dalam kondisi bagian moncong singa yang rompal.

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto, mengekskavasi arca atas permintaan pengembang pemilik lahan yang sedang membangun sejumlah unit rumah baru.

“Kami datang kemari atas permintaan pengembang, pemilik lahan. Arca kami angkat dari tanah dan kami bersihkan,” kata Jamiat Rukmoni Adi, Kepala Sub Pokja Pengamanan dan Penyelamatan BPCP Trowulan, Senin, 8 Juni 2015.

Arca berbentuk singa itu diketahui telah lama terpendam di areal persawahan yang kini sedang berubah fungsi menjadi kawasan perumahan. Arca berbentuk seekor singa dengan posisi berdiri di atas dua kaki dan melipat ke dua kaki lain di depan dada itu sebagian besar badannya terkubur dalam tanah. Pada bagian dada terukir angka 941 dalam tulisan Jawa kuno yang diduga merujuk pada tahun dibuatnya arca, yaitu pada masa Kerajaan Kanjuruhan di abad 10 di Malang.

BPCB akan melakukan sosialisasi sebelum memindah arca ke Museum Mpu Purwa di Kota Malang. “Kami akan sosialisasikan dulu dengan masyarakat, jika disetujui arca akan kami pindah untuk diselamatkan di museum,” kata Jamiat.

Jika masyarakat sepakat, arca akan dipindah secepatnya. Namun bila masyarakat menghendaki menyimpan sendiri, museum juga mengizinkan. “Dengan syarat mereka harus merawat dan bertanggung jawab apabila arca rusak atau hilang,” katanya.

Arkeolog BPCB Trowulan, Nugroho HL, menduga arca itu adalah arca singha stambha, arca berupa seekor singa sebagai perlambang perwujudan Dewa Wisnu, Dewa tertinggi pada agama Hindu. Dari ukiran angka 941 yang tersemat di bagian dada, arca itu diduga telah berusia lebih 1.000 tahun.

“Kemungkinan buatan abad 10, saat itu memang pamor Dewa Wisnu sedang melambung, bisa jadi dia berasal dari masa Kerajaan Kanjuruhan atau pengaruh dari kerajaan Jawa Tengah yang sedang masuk ke wilayah Malang saat itu,” katanya.

Dilihat dari bentuk arca, Nugroho menduga arca itu dibuat bukan untuk diletakkan di istana atau milik para bangsawan utama. “Proporsi tubuh dan kaki terlihat tidak seimbang. Bagian perut juga seperti buncit. Kalau pengerjaannya seperti itu, biasanya milik masyarakat menengah," katanya.

Sejumlah arca serupa buatan abad yang sama telah tersimpan di BPCB Trowulan. Fungsi singa stambha belum diketahui detail karena arca itu ditemukan terpisah tanpa tambahan temuan lain, seperti reruntuhan candi atau artefak lain yang bisa melengkapi fungsinya


sumber artikel : viva.co.id
sumber foto    : nasional.tempo.co 

19/10/15

Riwayat jalur Kereta Api di Malang

           Dalam sejarahnya, berkat kependudukan kolonialsime Belanda di Indonesia, negara ini menjadi negara kedua tertua di Asia yang memiliki jalur kereta api setelah India. Sayangnya, dengan seiring berjalannya waktu, banyak jalur-jalur tersebut yang tidak terpakai dan tidak terurus keberadaannya. Bahkan tidak banyak dari sisa-sisa sejarah perjalanan perkereta apian tersebut yang dapat kita temukan. Baik itu berupa bangunan stasiun, rel kereta api, jembatan, persinyalan yang masih tersisa dari perjalanan waktu. Karena sudah banyak yang beralih fungsi bahkan sudah ada yang terpendam dengan tanah ataupun sengaja dibongkar untuk keperluan lainnya.

Sebuah jalur trem melintasi kawasan alun-alun Kota Malang.

           Seperti contoh jaringan kereta api yang ada di Kota Malang. Beberapa hari ini saya memiliki keinginan kuat untuk mengetahui jalu-jalur mati yang ada di Kota Malang. Karena, setiap kali saya melakukan perjalanan dengan menggunakan sepeda motor ke wilayah-wilayah tertentu di Kabupaten Malang. Saya acapkali menemukan sisa-sisa dari peninggalan sejarah kereta api itu. Seperti bangunan jembatan, sisa sinyal pantograp, rel-rel yang hampir tertimbn tanah dan aspal jalanan dan masih banyak lagi. Anehnya hal yang sepreti itu saya temukan di Daerah pelosok seperti Dampit, Turen yang berada di wilayah Malang Selatan. Yang notebene, kalau dilihat sekarang ini tidak ada sama sekali tanda-tanda kalau dulunya tempat  ini pernah dilalui oleh jaringan transportasi seperti rel kereta api.



Stasiun Malang Kota Lama


             Tidak hanya di WIlayah Malang Selatan, seperti pada tulisan saya sebelumnya mengenai jalur mati yang ada di kawasan Blimbing menuju Tumpang dan ABdurrahman Saleh, semakin membuat hasrat keingintahuan saya bertambah mengenai jalur-jalur mati yang ada di Kota Malang ini. Malam tadi, saya berbincang bersama teman saya yang juga pecinta kereta api, dan kebetulan teman saya ini juga salah satu dari komunitas pecinta kereta api tempo dulu yang berada di Kota Malang. Saya biasa memanggilnya dengan sebutan Mas Tomi Koeswoyo. Dari keterangan Mas Tomi inilah saya mendapatkan beberapa pencerahan mengenai jalur-jalur mati yang ada di Kota Malang, baik itu jalur trem, maupun jalur kereta api. Setalah usai berbincang dengan mas Tomi, saya langsung menggunakan alat bantu pencari Google untuk menemukan situs-situs yang dimaksudkan, dan akhirnya saya menemukan sebuah blog milik Memoar Anak Negeri yang juga dalam salah satu judul postingannya membahas mengenai Nostalgia Malang Stoomtram Maatschappij 1991.

 Jalur yang dilalui oleh trem Malang
(sumber foto: semboyan35.com)

Beberapa jalur rel kereta api di Malang. Garis warna hitam merupakan jalur yang dikelola oleh Malang Stoomtram Maatschappij dan menghubungkan beberapa daerah di Malang(umumnya dekat dengan lahan perkebunan). 

            Dalam blog tersebut juga terdapat beberapa lembar foto yang didapatkan dari sumber aslinya berupa situs http://www.drehscheibe-foren.de yang juga berhubungan langsung dengan perkerata apian yang ada di Jerman. Gambar-gambar berikut ini juga dapat sobat temukan di situs blog maupun situs wibesite tersebut.

Sekelompok pekerja bersama anak-anak berfoto bersama di Stasiun Bululawang
(sumber foto: anak-negeri.blogspot.com)

 Foto para warga pribumi di Stasiun Bululawang(sekarang nonaktif)
(sumber foto: anak-negeri.blogspot.com)

 Suasana di Stasiun Dampit(stasiun terakhir). 
Terlihat tumpukan kayu bakar yang dapat dijadikan 
sebagai bahan bakar lokomotif untuk menarik rangkaian kereta.

 Beberapa lokomotif tampak singgah di Stasiun Gondanglegi(kini nonaktif)
(sumber foto: anak-negeri.blogspot.com)
 
 Suasana disekitar Stasiun Gondanglegi. 
Terlihat banyak balok kayu(untuk bahan bakar lokomotif?) 
berserakan di sebagian lahan stasiun.

 Stasiun Kendalpayak di tahun 1919. 
Stasiun tersebut pada masa kini sudah tak terpakai lagi(nonaktif)
 Sebuah lokomotif seri B17 melintasi jembatan diatas Kali Lestitalok di Tumpang.
(sumber foto: anak-negeri.blogspot.com)

 Lokomotif 14 milik Malang Stoomtram di tahun 1920 yang memiliki bobot 28200kg
(sumber foto: anak-negeri.logspot.com)
 
 Foto para Kastenlok di Stasiun Singosari, Malang. 
Perhatikan gaya busananya yang menggunakan dandanan ala kolonial dan batik.
(sumber foto: anak-negeri.blogspot.com)
 
Pembangunan jalur rel. Lokasi pembangunan tidak diketahui tempatnya.
(sumber foto: anak-negeri.blogspot.com)
 

Sekelompok orang berfoto bersama di Stasiun Pakis(kini nonaktif), 1919.


Pembangunan jalur rel di depan Stasiun Pogadjih. 
Stasiun ini masih aktif hingga sekarang dengan beberapa perjalanan 
Kereta Api Penataran berhenti di stasiun ini

30/06/10

Tokoh Orde Baru asal Malang

-->

SEJARAH BIOGRAPHY

Laksamana Sudomo


SANGAT sedikit orang tahu bahwa Laksamana Purnawirawan Sudomo,, kelahiran asli Malang pada tanggal 20 September 1926. Orang Tuanya bernama  H. Martomihardjo

 

Pada zaman Jepang sekolah di SMP Negeri (d/h Zuster School) jalan Celaket Malang. Pada jam- Sejak lulus tahun 1944. Perjalanan pendidikan akhirnya nasip menentukan Sudomo masuk  menjadi KSAL. Bintang karir mulai dari Perebutan Irian Barat. Pertama kali ia mengenal Mayjen Suharto (sekarang Presiden) tahun 1962. Ketika itu Sudomo menjadi Panglima AL Mandala di bawah Suharto yang Panglima Mandala Pembebasan Irian Barat. Tujuh tahun kemudian menjabat KSAL, 4 tahun kemudian sebagai Wapang Kopkamtib di bawah Pangkopkamtib Jenderal Soemitro. Dan setahun kemudian: Kas Kopkamtib.

Pendidikan :
- HIS (1939)
- MULO (tidak tamat, 1941)
- SMP, Malang (1944)
- Sekolah Tinggi Pelayaran (1944)
- Pendidikan Perwira Operasi Khusus, Sarangan, Jawa Timur (1948)
- Artillerie School, Den Helder, Negeri Belanda (1953)
- Kursus Komandan Destroyer, Polandia (1958)
- Lemhanas (1965)
- Sekolah Para Komando (KKO), Surabaya (1966)
- Seskoal, Jakarta (1968)

Karir :
- Guru Sekolah Pelayaran, Pasuruan (1944-1945)
- Perwira Logistik Yon III Pangkalan IX ALRI (1945-1949)
- Komandan Pusat Pendidikan AL, Aceh
- Perwira I Korvet KRI Benteng (1949-1951)
- Komandan KRI Flores
- Perwira I KRI Gajah Mada (1951-1956)
- Kepala Staf Operasi IV MBAL (1960-1961)
- Komandan Satgas Khusus MTB dan Panglima AL Mandala (1961- 1964)
- Pembantu Menteri Perhubungan Laut Urusan Operasi Irjen AL dan -Panglima Kawasan Maritim Tengah (1964-1969)
- KSAL (1969-1973)
- Anggota MPR (1971-1974)
- Wapangkopkamtib (1973-1974)
- Kaskopkamtib (1974-1981)
- Wapangab/Pangkopkamtib (1982-1983)
- Menteri Tenaga Kerja (1983-1988)









ingin membaca "Tokoh Nasional dari Malang " yang lainnya....Klik disini.

06/05/10

Tokoh Orde Lama, lahir di Kepanjen

Cuplikan Biografi
TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)*



Nama : Dr. Soebandrio
Lahir : Kepanjen, Malang, 15 September 1914
Meninggal : Jakarta, 3 Juli 2004
Agama : Islam
Isteri : 1. dr Hurustiati (meninggal April 1974)
2. Sri Kusdyantinah

Ayah : Kusnadi (mantan wedana Kepanjen)
Ibu : Safina

Jabatan:
1947-1949: Wakil RI di Inggris
1950-1954: Dubes RI untuk Inggris
1954-1956: Dubes RI untuk Uni Soviet
1956-1957: Sekjen Kementerian Luar Negeri
1957-1966: Menteri Luar Negeri
1965: Wakil Perdana Menteri I dan Kepala Biro Pusat Intelijen (BPI)

Buku:
= Perjuangan Irian Barat
= Kesaksianku tentang G30S

Alamat:
Jl H Jian No 18, Cipete, Jakarta Selatan
--------------------------------------------------------------


Mantan Menteri Luar Negeri sekaligus Wakil Perdana Menteri I pada zaman Soekarno ini meninggal dunia dalam usia hampir 90 tahun, di rumah kediamannya pukul 01.30 WIB Sabtu 3 Juli 2004. Politikus ulung Orde Lama ini meninggal dunia setelah sembilan tahun dibebaskan dari penjara yang telah dijalaninya selama 29,5 tahun sebagai tahanan politik terlibat G-30-S/PKI. Permohonan grasinya dikabulkan Presiden Soeharto yang membebaskannya dari hukuman mati. Setelah bebas, ia mencoba meluruskan sejarah G 30S yang disebutnya telah dimanipulasi rezim Orde Baru (Orba).


Ia mencoba mengklarifikasi dengan mengeluarkan buku Kesaksianku tentang G30S. Buku tersebut menyebutkan bahwa sejarah versi Soeharto adalah dusta belaka. Kepergian mantan orang nomor dua setelah Soekarno ini juga meninggalkan sebuah kebenaran sejarah dari Peristiwa G30S yang hingga kini masih tetap senyap. Kesaksiannya tentang G-30-S sangat berbeda dari sejarah yang ditulis pada masa Orde Baru. Jenazahnya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta Selatan, sekitar pukul 15.30, kemarin.


Soebandrio kelahiran Kepanjen, Malang, 15 September 1914, meninggalkan seorang isteri, dua anak, 12 cucu, dan dua cicit. Ia dua kali menikah. Dari perkawinan pertamanya dengan almarhum dr Hurustiati (meninggal, April 1974), ia mempunyai seorang putra, Budoyo (almarhum), yang juga
telah meninggal Februari 1974 ketika ia masih ditahan di LP Militer di Cimahi. Budoyo memiliki dua putra, Jhonjhon dan Arnold, yang masing-masing memiliki satu putra.

Kemudian, semasa dipenjara, tahun 1980, ia menikahi Sri Kusdyantinah yang membawa empat putra dari suami pertamanya, almarhum Kolonel Bambang Supeno, namun dua di antaranya Bambang Wahyu Aji dan Bambang Bima Aji telah meninggal dunia. Tinggal dua akan yang hidup yakni Bambang Indrayana dan Bambang Darmayoga serta 10 cucu.

Orang dekat Soekarno itu mengembuskan napas di rumah kediamannya di Jl H
Jian No 18, Cipete, Jakarta Selatan, setelah enam bulan terbaring di rumah karena stroke.


Menurut istrinya, Sri Kusdyantinah, 73, almarhum memang tidak mau dibawa ke rumah sakit. Menurut Sri, suaminya sudah tiga kali mengalami stroke sejak keluar dari penjara Cipinang 15 Agustus 1995. Serangan jantung yang ketiga mengakibatkan dia terjatuh terjerat sarung setelah salat. Sejak itu, Soebandrio hanya bisa terbaring hingga ajal menjemputnya.

Namun, Sri menceritakan, selama sakit tersebut, suaminya yang menguasai bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Prancis, dan Rusia, itu masih tekun menyimak berita di koran dan televisi. Ia masih bisa membaca tanpa mengenakan kacamata. Menurut Sri, sebulan sebelumnya, ketika kondisitubuhnya sangat lemah, Soebandrio sempat mengatakan sudah tak kuat lagi
melanjutkan hidup. "Tapi saya belum tega meninggalkan kamu," kata Soebandrio kepada Sri, seperti dituturkan kembali oleh Sri.

Sejumlah tokoh tampak datang melayat ke rumah duka. Antara lain, Menteri Luar Negeri Roeslan Abdulgani, mantan Gubernur DKI Ali Sadikin, mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Asvi Warman Adam, dan Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono. Kepala BIN Hendropriyono mengungkapkan bahwa Soebandrio adalah orang pertama yang memimpin Badan Pusat Intelijen yang saat ini menjadi BIN. Sementara Roeslan Abdulgani dan Ali Sadikin turut memandikan jenazah sebelum disemayamkan di ruang keluarga.

Kisah hidup Soebandrio seperti roda pedati. Mantan dokter bedah yang kemudian menjadi politisi ulang, ini sebenarnya bukanlah seorang politisi tulen. Putra kedua dari pasangan almarhum Kusnadi (mantan Wedana Kepanjen) dan Safina ini mulai aktif berpolitik ketika menjadi anggota Partai Sosialis Indonesia (PSI) di bawah pimpinan Sutan Sjahrir. Kemudian ia ditunjuk menjadi Sekjen Kementerian Penerangan dalam Kabinet Sjahrir (Oktober 1946-Juli 1947). Dalam posisi ini, ia menunjukkan bakat dan kemampuannya sebagai seorang diplomat.

Pada tahun 1947-1949, ia pun dikirim menjadi Wakil RI di Inggris. Kepiawaiannya berdiplomasi makin menonjol, sehingga kemudian ia diangkat menjadi Dubes RI untuk Inggris (1950-1954), Dubes RI untuk Uni Soviet (1954-1956). Kemudian, tahun 1956 ia dipercaya memangku jabatan Sekjen Kementerian Luar Negeri saat Roeslan Abdulgani menjabat Menlu.

Kemudian pada tahun 1957, Soekarno mengangkatnya menjabat Menteri Luar Negeri. Namanya pun semakin mencuat ke panggung politik nasional maupun internasional pada terjadi konfrontasi merebut Irian Barat. Ia menjabat Menlu sejak 1957 sampai 1966 dalam enam kabinet (kabinet Karya, KerjaI-IV, dan Dwikora I-II). Selain menjabat Menlu, ia juga pernah menjabat sejumlah jabatan penting, seperti Kepala Biro Pusat Intelijen (BPI) dan Wakil Perdana Menteri I.

Ia memang seorang diplomat yang cerdas dan menguasai keadaan. Ia suka belajar. Juga sering bertemu langsung dengan rakyat. Dalam konsepnya, politik luar negeri adalah cerminan dari keadaan di dalam negeri.

Jatuhnya pemerintahan Soekarno, berakibat langsung kepada kelanjutan karirnya. Rezim Soeharto menudingnya terlibat peristiwa Gerakan 30 September/PKI. Ia pun dituding sebagai Anjing Peking. Rumahnya di Jalan Imam Bonjol Nomor 16 Jakarta Pusat didobrak paksa. Keponakannya, Aris
Sutanto, dan adik istrinya, Hudoyo, terkejut bukan main. Mereka tak bisa berbuat apa-apa ketika Soebandrio ditangkap dan dibawa paksa. Ia ditahan di rumah tahanan Jalan Setia Budi, Jakarta (sekarang SMA Boedi Oetomo).

Kemudian diadili di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub), dan dijatuhi vonis hukuman mati. Beberapa negara, seperti AS, Inggris, dan Belanda, bereaksi atas hukuman mati itu. Kemudian hukuman mati itu diubah menjadi hukuman seumur hidup. Ia menjalani hukuman penjara selama 9 tahun enam bulan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Militer Cimahi, LP Nirbaya Jakarta, dan LP Cipinang Jakarta. Dan akhirnya dibebaskan bersama Oemar Dhani pada 15 Agustus 1995 setelah permohonan grasinya diterima Presiden Soeharto.

Setelah bebas, ia aktif menulis. Dua bukunya diterbitkan, yakni buku pertama berjudul Perjuangan Irian Barat dan buku kedua berjudul Kesaksianku tentang G30S. Buku kedua ini merupakan ungkapannya dalam meluruskan sejarah seputar peristiwa tahun 1965 yang gelap dan penuh
rekayasa. Buku tersebut menyebutkan bahwa sejarah versi Soeharto adalah dusta belaka. Buku ini sempat dilarang beredar pada masa pemerintahan Soeharto.


ingin membaca "Tokoh Nasional dari Malang " yang lainnya....Klik disini.






Cuplikan buku ini kami lampirkan dalam halaman Web side askinya :
Copyright © 2002-2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved.
Design and Maintenance by Esero

http://www.biografiindonesia.com/ensiklopedi/s/soebandrio/index.shtml





07/03/10

Tokoh Pelukis Komik dari Malang

Maestro Teguh Santoso


Karya cerita dan lukis berupa cerita Mahabharata, komik wayang karya (alm) Teguh Santosa yang pernah terbit sebagai bonus Majalah Ananda sekitar tahun 1980-an.

Mereka yang dibesarkan pada dekade 1950-an hingga 1980-an tentunya ingat betul karya-karya beliau: Mahabharata, Ramayana, dan puluhan komik wayang lainnya. Teguh Santoso adalah komikus yang sangat produktif, termasuk membuat komik cerita rakyat. Suatu jumlah yang fantastis dan sulit ditandingi, bahkan untuk komikus generasi muda sekarang.

Ia berusaha untuk tetap setia dengan pakem ceritanya, dan tidak menyampurnya dengan pakem wayang purwa Jawa.

Ambillah sebuah episode Mahabharata dan perhatikan setiap halaman baik-baik. Profil setiap tokoh tidak sulit dibedakan. Walau ia mengadaptasi profil kostum dan perhiasan kepala (termasuk mahkota) dari wayang golek dan wayang kulit, kita masih mampu membedakan tiap karakter dengan mudah. Dekorasi mahkota, perhiasan, dan pakaian, divisualisasikan secara sederhana. Perhatikan pula berbagai bentuk dan ornamen bangunan, mulai dari istana, gapura, hingga kereta kuda dan senjata. Tampak seakan terbuat dari batu dan kayu, dengan proses pengerjaan selayaknya candi puluhan abad silam.

Perhatikan secara seksama gaya bahasa Indonesia yang digunakan. Sangat sederhana, lugas dan sarat makna. Ia mampu menyadur bahasa sastra kelas berat menjadi bahasa pop yang mudah dicerna, seakan bahasa sehari-hari. Pesan moral didalamnya pun tetap melekat dan pembaca dapat menyerapnya.

Di masa jayanya Pak Teguh Santosa dulu, kediaman Teguh di Jalan Anjasmoro Kepanjen Malang, sering didatangi beberapa anak muda (SMP dan SMA) yang semula ingin baca komik di perpustakaan komik Teguh, kemudian keterusan untuk bikin komik.
Mereka antara lain Rokhim, Muhammad Ali , Syamsuri, Buang Affandi, Slamet, dan Bambang Priadi.

Ada proses belajar di sana. Teguh mendidik mereka menjadi komikus yang baik. Bukan mengajari soal teknis membuat komik, tapi lebih sering bersifat dialog. Semula anak-anak muda ini bikin komik dengan napas seperti Teguh. Gaya lukis, narasi, dan tema, sebagian meniru Teguh.

Di masa 70-an itu, oleh Teguh, komik-komik mereka dibawa ke penerbit. Selanjutnya, mereka bisa berhubungan langsung dengan penerbitnya. Karya mereka sudah cukup banyak yang diterbitkan. Nama-nama mereka pun berganti. Slamet menjadi Sam Timur, Muhammad Ali menjadi Ema Wardhana, Bambang Priadi menjadi Eroest BP, Buang Affandi menjadi Baffi, Syamsuri menyingkat namanya menjadi Syam, dan Rokhim menjadi Rahimsyah.

Teguh Santosa, salah seorang komikus kawakan indonesia (1942-2000) selain namanya telah ditabal sebagai seorang illustrator papan atas indonesia di jamannya, juga melalui karya-karya komiknya beliau patut disebut sebagai seorang futuris. Di tahun 1971, Teguh Santosa telah menggunakan istilah ''novel bergambar'' untuk karyanya yang berjudul ''Mat Romeo'', pemakaian istilah ''Novel Bergambar'' oleh Teguh Santosa pada saat itu boleh dibilang telah mendahului jamannya. Komik ''Mat Romeo'' merupakan logi kedua dari trilogi komik karya Teguh Santosa yang paling terkenal, yaitu ''Shandora'', ''Mat Romeo'' dan ditutup oleh logi ketiga, ''Mentjari Majat Mat Pelor''.

Istilah Novel Bergambar atau sekarang dikenal dengan nama Novel Grafis sendiri populer secara internasional sejak Will Eisner menggunakan istilah ''Novel Grafis'' untuk kumpulan empat komik pendeknya dalam komik ''A Contract With God'' di tahun 1978. Walau sampai sekarang istilah Novel Grafis masih sering diperdebatkan definisinya, trilogi Shandora karya Teguh Santosa sering disebut sebagai novel grafis Indonesia, apapun definisi dari istilah novel grafis nya itu sendiri.



ingin membaca "Tokoh Nasional dari Malang " yang lainnya....Klik disini.

 

12/01/10

Alun-Alun Malang (Mall)

Cerita Malang abad 18
Malang termasuk sebagai kota yang majemuk. Warganya terdiri atas: penduduk pribumi setempat, penduduk Timur Asing (Vreemde Oosterlingen), yang terdiri atas orang Cina dan Arab, serta Timur asing lainnya, serta penduduk Belanda sendiri yang memerintah. Masyarakat inilah yang membentuk pola permukiman di Malang sebelum tahun 1900.
Malang sendiri merupakan kota pedalaman. Letaknya yang cukup tinggi (450 m diatas permukaan laut) membuat Kota Malang menjadi satu-satunya kota yang berhawa dingin di Jawa Timur. Kawasan sekitar Malang yang merupakan daerah perkebunan, membuat kota ini menjadi sangat strategis dan tumbuh dengan cepat sebagai kota kedua yang terbesar di Jatim.
Kota Malang sampai th. 1914, berbentuk konsentris dengan pola jejala (grid) dan pusatnya adalah alon-alon yang dihubungkan dengan jalan-jalan besar yang menuju ke luar kota. Hal ini merupakan modal awal yang baik untuk perkembangan lebih lanjut pada abad ke 20.
Keputusan politik pertama yang berpengaruh langsung pada perkembangan Kota Malang adalah U.U. Gula (suikerwet) dan U.U. Agraria (agrarischewet) pada th. 1870. Undang-undang tersebut mengakibatkan adanya pembangunan secara besar-besaran oleh pihak pemerintah dan swasta untuk membangun prasarana baik didalam kota, jalan-jalan yang menghubungkan Malang sebagai kota pedalaman dengan kota-kota lainnya.
Keputusan politik yang lebih penting adalah adanya undang-undang desentralisasi pada th. 1903, yang disusul dengan keputusan desentralisasi pada th. 1905. Undang-undang tersebut pada pokoknya berisi wewenang yang lebih besar kepada kota-kota yang ditetapkan sebagai kotamadya (gemeente), untuk bisa berdiri sendiri. Malang ditetapkan sebagai Kotamadya (gemeente) pada tanggal 1 April 1914. Sejak saat itu Malang berkembang lebih pesat dari sebuah kota Kabupaten yang kecil menjadi sebuah Kotamadya terbesar kedua di Jatim.
Rencana perkembangan kota Malang merupakan salah satu perencanaan kota yang terbaik di Hindia Belanda waktu itu. Tentu saja hal ini tidak luput dari orang-orang yang ada dibalik rencana tersebut. Selain walikota Malang pertama yaitu: H.I. Bussemaker (1919-1929), juga tak bisa lepas dari peran perencana kota yang terkenal pada waktu itu yaitu Ir. Herman Thomas Karsten.
Pada bulan Agustus 1929, Walikota Malang meminta secara resmi kepada Ir. Herman Thomas Karsten menjadi ”Adviseur” (penasehat) untuk perluasan dan perkembangan kota Malang. Tugas utamanya adalah memperbaiki dan mengembangkan ”geraamteplan” kota Malang yang dibuat oleh pihak Kotamadya, supaya bisa diterima oleh pemerintah pusat. Secara garis besar laporan Karsten (1935:59).


Budaya Malang Prasejarah

oleh : Ingki Rinaldi

TIDAK mudah menemukan lokasi penemuan fosil Pithecanthropus modjokertensis yang kini masuk wilayah administratif Dusun Klagen, Desa Kepuhklagen, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Tidak semua penduduk setempat tahu lokasi temuan yang ditandai oleh tugu dari beton cor dilapis batu marmer itu. Padahal, lokasinya hanya berjarak 3 kilometer dari perempatan Pasar Perning, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.


Sukarto (58), Selasa (24/11), membersihkan lokasi di sekitar tugu peringatan temuan fosil Pithecanthropus modjokertensis yang ditemukan oleh R Tjokrohandjojo yang sedang bekerja untuk geologis asal Belanda, Johan Duyfjes, pada 1936 di sebuah wilayah yang termasuk Jalan Blandong Jetis, Desa Perning, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Kini lokasi temuan yang masuk wilayah Dusun Klagen, Desa Kepuhklagen, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, dan berbatasan dengan Desa Perning, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, itu nyaris terlupakan. (KOMPAS/INGKI RINALDI)

Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia I, Zaman Prasejarah di Indonesia tulisan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, terbitan Balai Pustaka tahun 2008, disebutkan bahwa temuan yang berasal dari formasi Pucangan di Kepuhklagen itu berada di sisi utara Desa Perning, Kecamatan Jetis, Mojokerto.

Fosil Pithecanthropus modjokertensis ditemukan tahun 1936 oleh R Tjokrohandjojo yang bekerja untuk geologis asal Belanda, Johan Duyfjes. Wujudnya tengkorak anak usia enam tahun. Umur fosil itu diperkirakan mendekati dua juta tahun. Bisa dikatakan, fosil itu adalah Pithecantropus tertua sekaligus fosil tertua di wilayah geografis kelautan masa silam (maritime paleogeographic).

Fosil itu sama pentingnya dengan fosil Situs Sangiran, Jawa Tengah, baik bagi kalangan paleoantropologis maupun kalangan geologis, untuk kepentingan survei kandungan minyak bumi.

Sukarto (58), seorang petani penggarap, menuturkan, sejak ia kecil, lokasi itu setiap tahun didatangi orang asing. ”Saya membantu orang-orang itu menggali di lahan di sebelah utara monumen. Banyak temuannya, tulang manusia maupun gigi,” katanya.

Menurut Sekretaris Desa Kepuhklagen Sidik Utomo, para peneliti Indonesia kebanyakan hanya menemani peneliti dari luar negeri.

Menurut Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur (BP3) Prapto Saptono, monumen penanda lokasi temuan Pithecantropus diresmikan oleh perwakilan dari 11 negara pada tahun 1996. Hal itu sekaligus mengenang 100 tahun penemuan fosil.

Kini lapisan marmer di bagian atas tugu sudah ambrol dan menyisakan cor beton meruncing sekitar setengah meter. Di bagian bawah terdapat kotak berlapis marmer yang kusam termakan usia dan tak terawat. Di marmer tertulis nama R Tjokrohandjojo dan J Duyfjes, penemu Pithecanthropus modjokertensis.

Menurut Prapto, lahan itu kini di bawah penguasaan TNI Angkatan Laut. Hal itu menyulitkan BP3 Jatim untuk mengembangkan kawasan tersebut.

Sidik Utomo membenarkan bahwa lokasi itu kini menjadi milik TNI AL. ”Mereka (TNI AL) membeli tanah seluas 203 hektar itu tahun 1998-2004 dengan harga Rp 3.500-Rp 60.000 per meter. Sekarang dipakai sebagai tempat latihan,” katanya.

Kepala Dinas Penerangan Komando Armada RI Kawasan Timur Letnan Kolonel (KH) Toni Syaiful menyatakan, lahan itu rencananya digunakan sebagai lokasi perumahan TNI AL. Namun, belum bisa dipastikan kapan pembangunannya dimulai. ”Secara prinsip, kami memberikan keleluasaan (untuk melakukan penelitian),” kata Toni. Menurut dia, pihak yang hendak meneliti benda-benda prasejarah bisa menghubungi TNI AL.

Namun, saat ini kawasan penemuan itu terancam. Sisa aktivitas penambangan galian C ada di mana-mana. Jika kondisi ini dibiarkan, bukan mustahil kekayaan bukti prasejarah akan musnah.

Sumber: Kompas, Senin, 30 November 2009

05/12/09

Kerajaan Singosari

Kerajaan dan Raja Besar di Malang
Dikutip dari Buku Peni Suparto : Wasiat Mpu Tantular
Siapapun yang penah belajar sejarah pasti mengetahui latar belakang sosok controversial ini. Namun bisa dipastikan bahwa banyak orang yang menempatkan Ken Arok sebagai seorang pelaku sejarah yang licik, kejam, perusuh dan tepatnya adalah sosok representasi penjahat atau sosok antagonis.
Dalam sejarah Tumapel (sekarang Malang dan sekitarnya) Ken Arok terlepas dari sisi-sisii gelapnya dia adalah seorang figure besar yang memiliki semangat dan cita – cita diri yang melampaui zamannya. Dalam usia masih muda dia sudah bias mengorganisir para pemuda untuk “merampok” upeti Akuwu Tumapel yang hendak didawa ke tanah Daha (Kediri). Hasil rampokan kemudian dikembalikan pada rakyat dan disumbangkan pada biara.
Saat itu Tumapel berada dalam wilayah kekuasaan Daha. Naiknya Tunggul Ametung menjadi Akuwu merupakan intervensi politik dari Sri Baginda Kertajaya yang berkuasa di tanah Daha. Akuwu pun lantas diwajibkan untuk menyetor upeti pada Kediri. Sudah barang tentu Tungul Ametung harus menindas dan memaksa rakyat untuk memenuhi tuntutan upeti dan menghidupkan ribuan prajuritnya.

kanArok besar dalam suasana penindasan sang Akuwu yang bergelar Tunggul Ametung ini. Sebagai seorang pemuda yang sadar maka ia menolak segala bentuk penindasan. Ia juga seorang yang memiliki minat belajar. Dalam banyak keterangan sejarah, ia pernah dididik dalam Biara di bawah bimbingan seorang Brahmana Syiwa yang bernama Danghyang Lohgawe.
Kepribadian Ken Arok yang komplit membuat para Brahmana yang ikut ditindas Akuwu “mengkader” pemuda nakal, liar , progresif dan berani ini untuk melakukan gerakan pembebasan. Buku sejarah banyak mengulas bahwa Tunggul Ametung lengser hanya karena dengan sebatang keris di tangan Ken Arok.
Kudeta Ken Arok merupakan konspirasi pembebasan yang melibatkan agamawan (Brahmana) yang sangat kecewa dengan kepemimpinan kaki tangan Sri Kretajaya tersebut. Tunggul Ametung memang memimpin dengan gaya yang tidak simpatik. Ken Dedes yang banyak dipuja kecantikannya adalah anak seorang Brahmana terkemuka bernama Mpu Parwa. Namun Dedes direnggut oleh Tunggul Ametung untuk diperistri dengan cara yang sangat berlawanan dengan tradisi Biara. Dan ini sangat sensitive I zaman itu.
Pada tahun M, Arok berhasil menumbangkan Tunggul Ametung setelah melewati tahapan scenario yang cukup panjang. Sebelumnya ia menghabisi dahulu pandai besi Emu Gandring. Ini juga menjadi pertanyaan sejarah. Apakah sedemikian kejam ken Arok membunuh Empu Gandring yang berjasa padanya membuatkan keris?
Gandring adalah seorang Pandai besi yang dipercaya sakti mandraguna. Di saat Tumapel sedang tidak stabil Suasana politiknya karena gerakan pemberontakkan Arok, tentu saja ia memiliki ambisi politik tertentu. Gandring memiliki bawahan dan senjata.
Bukan tidak mungkin ia juga ingin menjadi Akuwu bila Tunggul Ametung Lengser. Akhirnya pada titik yang telah diperhitungkan, Arok lalu menikam pandai besi Tumapel ini dengan kerisnya sendiri. Lalu kenapa kitab Paraton tidak menjelaskan serinci ini? Jawabnya, kitab ini dibuat pada zaman setelah Arok berakhir sehingga harus disesuaikan dengan kepentingan raja yang berkuasa, yang belum tentu berpihak pada Arok.
Saat proses kudeta berlangsung, secara mengejutkan terjadi pembunuhan panglima perang Tumapel yaitu Kebo Ijo. Memang ini terkait dengan kudetanya Arok. Kebo Ijo juga berpotensi menggagalkan rencana Arok dalam menjatuhkan Tunggul Ametung karena Kebo Ijo adalah panglima yang memegang kendali langsung terhadap ribuan prajurit tombak maupun pedang. Untuk memuluskan ambisi Arok, peran Kebo Ijo berpihak pada Akuwu harus dihilangkan.
Setelah berhasil menumbangkan Akuwu, Arok mencanangkan paling tidak dua hal. Pertama, menghapus segala penindasan yang dilakukan kepada rakyat para pendahulunya.
Ia menghormati hak rakyat dan kedudukan Brahmana sehingga tidak heran jika ia mendapatkan simpati dan dukungan rakyat Tumapel yang dikemudian hari menjadi kekuatan utama dalam menggulingkan pengusaha Daha Raya (Kediri).
Kedua, Arok menyatakan bahwa Tumapel adalah negeri merdeka. Artinya, ia tidak lagi mengakui kekuasaan Daha Raya yang sedang berjaya menguasai daratan Jawa. Tentu saja Sri Krertajaya murka dan langsung membariskan ribuan prajuritnya untuk menumpas arogansi Tumapel yang dikomandoi Ken Arok. Sebagai seorang pemberani, ia sambut tantangan itu dengan memobilisasi rakyat dan melibatkan kekuatan biara. Perang Ganter pun pecah dan berlangsung sengit.
Mahesa Wulungan yang merupakan saudara Sri Baginda Daha pun tewas dalam perang besar itu. Hal ini menandai kemenangan Arok. Dalam perhitungan sejarah rentang waktu Arok menjatuhkan Tunggul Ametung hingga keberhasilannya menakhlukkan tanah Daha hanya memakan waktu dua tahun (1220-1222 M).
Ini waktu yang sangat singkat dalam mencapai sebuah perubahan. Ketika kretajaya berkuasa, daratan Jawa ini dikuasai. Namun setelah Ken Arok mengalahkanny, maka praktis tanah kekuasaan Daha pun beralih ke Tumapel. Persatuan (integrasi) tanah Jawa sebetulnya telah dimulai dan disesuaikan dengan konteks pada zaman itu.
Arok adalah pemula sebelum lahirnya tokoh – tokoh integrasi yang yang lain. Gerakan pembebasan rakyat yang banyak dibahas orang sekarang telah dimulai oleh Arok sekitar 785 tahun yang silam. Dia tidak mengakui kekuasaan karajaan Daha dan tidak mau mengirim upeti pada Kretajaya.
Ini adalah model perlawanan yang tergolong berani dan meringankan beban rakyat Tumapel. Mendesain diri menjadi pribadi yang jagoan, bersifat ksatria, progresif yang bercita – cita besar padahal ia lahir dari rakyat kebanyakan (kasta Sudra) telah dilakukan oleh Ken Arok.
Generasi muda Indonesia terutama di Malang khususnya jadikanlah militasi ini sebagai roh dalam menuntut ilmu dan implementasinya. Kata “Arek” sendiri besar kemungkinan berasal dari kata “Arok”. Ini adalah ikatan cultural yang luar biasa lekat.

Kerajaan Kanjuruhan

diceritakan oleh : Agung Cahyo Wibowo

Kerajaan Kanjuruhan
CIKAL BAKAL KERAJAAN DI MALANG


Pada kisaran abad VII, Malang adalah sebuah teritorial integrasi yang cukup maju di zamannya. Piagam Dinoyo, piagam tertua di Jawa Timur yang berbahasa Sansekerta dengan aksara Jawa Kuno memberi arti penting bagi silsilah sejarah Malang. Pada masa itu tradisi penulisan prasasti telah dikenal oleh dinasti Kanjuruhan yang dipimpin oleh “putra” Dewa Simba yang bernama Gajayana.

Situs Kanjuruhan meliputi daerah Karang Besuki, Karang Dinoyo, Kejuron, Mertojoyo, dan Merjosari. Nama Kanjuruhan sendiri berasal dari kata Juruh yang artinya getah enau. Pemberian nama Kanjuruhan memiliki latar simbolik, bahwa kerajaan yang dipimpin oleh Limwa atau Gajahyana itu memiliki kaitan dengan kerajaan Bogor Pradah (pohon enau bersalut emas) milik ayahandanya yakni Dewa simha yang situs pen-dharma-annya terletek di dusun Bogor Pradah, Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri.


Berita Cina Dari Dinasti Tang
Keberadaan Kerajaan Kanjuruhan dapat dikaitkan dengan berita – berita Cina dari Dinasti Tang yang menyebutkan bahwa di Jawa dewasa itu terdapat Kerajaan Kalingga atau Holing, diman raja hidup di kota Chopo’o, tetapi salah seorang nenek moyangnya. Bernama Kiyen, pernah memindahkan tahtanya ke sebelah timur, yaitu P’olouk’i-asseu.

Topinim Chopo’o ssendiri mengingatkan kita pada kata Kepu (ng) yakni kota Kecamatan di mana Dusun Bogor Pradah yang terletak di Desa Sima (an) berada. Sedang nama Kalingga atau Holing merujuk pada toponim Keling yakni sebuah desa di sebelah barat desa Kepung.

Sementara nama P’olouk’iasseu menunjuk pada toponim Waharu Gasek (nama Waharu kemudian hilang tetapi sempat disebutkan dalam prasasti Waharu yang ditemukan dekat Karang Besuki, dan yang tersisa hanya toponim Gasek tempat dimana candi Badut terletak). Sedang gelar Kiyen menurut berita Tang yang disandang raja tampaknya merujuk pada gelar khas yang lazim digunakan para bangsawan di daerah Malang hingga abad ke 13 seperti terpateri pada nama Ken Arok, Ken Endok, Ken Dedes, Ken Umang. Dengan demikian, jelaslah bahwa tokoh nenek moyang raja Kalingga atau Holing yang memindahkan Ibukota ke sebelah timur sebagaimana dimaksud berita dari Dinasti Tang adalah Gajahyana.

W.J van der Meulen (1988)
menyebutkan bahwa berdasar sumber– sumber Tionghoa lainnya, perpindahan ibukota kerajaan Kalingga atau Holing terjadi antara tahun 742 hingga 755. Penetapan tahun itu bertepatan dengan masa dimana Gajahyana hidup. Ini, berarti, sepeninggal Dewasimha, Gajayana meningggalkan Ibukotanya dari sebelah barat Gunung Kelud ke sebelah Timur Gunung Kawi. Selanjutnya W.J van der Meulen berpendapat, perpindahan itu berkaitan dengan serangan angin ribut (Sanjaya) yang menampar dari arah barat. Pemindahan Keraton dari Bogor Pradah di barat ke Kanjuruhan di timur dibawah ini merupakan strategi terbaik Gajayana, terutama jika hal itu dikaitkan dengan letak geografis Kanjuruhan yang berada di wilayah Tumapel yang dipagari barisan gunung.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, sebelum mendirikan keraton Kanjuruhan, Gajayan berkeratin di Bogor Pradah, tetapi karena berlindung dari serangan Sanjaya yang berasal dari barat, maka Gajayana memindahkan keratonnya ke sebelah timur yakni di Kanjuruhan. Dengan demikian, nama juruh dan bogor memiliki kaitan simbolik. Tetapi keturunan Gajayana kemudian memindahkan lagi keratonnya ke sebelah barat yakni di Chopo’o atau Kepu (ng).


Ditulis Oleh ANANA, Cucu Raja Gajayana
Keberadaan kerajaan Kanjuruhan sendiri diketahui berdasar inskripsi dari prasasti yang ditulis oleh Anana, cucu raja Gajayana. Prasati itu ditulis dengan huruf kawi tetapi berbahasa Sansekerta. Menurut terjemahan F.D.K. Bosch dalam De Sanskritinscriptie op den steen van Dinaya, terjemahan Prasati Dinoyo adalah sebagai berikut:

“Kemuliaan di tahun saka 682 yang telah berlalu ada seorang raja bijaksana dan berkuasa Dewa-simha di bawah lindungannya api putukecwarayang menyebar sinar di sekelilingnya Juga Limwa puteranya yang bergelar Gajayana melindungi manusia bagaikan anaknya Ketika ayahandanya marak ke langit Limwa melahirkan anak perempuan Uttejana namanya dan dia adalah permaisuri raja Pradaputra dia juga ibu Anana yang bijaksana cucu Gajayana orang selalu berbuat baik terhadap kaum Brahmana dan pemuja Agastya tuan yang dilahirkan dari Tempayan

Ananah yang menyuruh penduduk dan banyak orang penting untuk membangun kediaman yang indah untuk Agastya yang Agung dan Suci untuk menghancurkan kekuatan musuh. Sesudah itu dia melihat patung Kalacaya dari kayu cendana yang dibuat leluhurnya dan tak boleh dipandang lebih lama diapun dengan segera memerintahkan kepada seorang seniman untuk membuat arca resi yang sama dari batu hitam/ yang keindahannya sangat menakjubkan

Bertolak dari bunyi Dinasti Tang dan Prasati Dinoyo, maka diketahui bahwa Karajaan Kanjuruhan didirikan oleh Limwa atau Gajayana sebagai kelanjutan dari kerajaan kalingga atau Holing yang berkeraton di Bogor Pradah, Sima (an), Kepu (ng), Kediri. Pelanjut Gajayana adalah Uttejana, puteri Gajayana yang menikah dengan anak lelaki Pradah Putera. Uttejana digantikan oleh Anana dimana pada masa pemerintahan Anana inilah candi Badut dan Prasasti Dinoyo dibuat yakni sekitar tahun 760 Masehi.

Menurut catatan Dinasti Tang, raja Kalingga atau Holing mengirim utusan ke kaisar pada 766 dan 779 yakni masa yang sama dengan masa kekuasaan Anana. Dengan demikian, Raja Kalingga atau Holing yang diberitakan Dinasti Tang hidup di kota Chopo’o atau Kepu (ng) adalah keturunan dari Anana.

Sebuah legenda menceritakan sejarah merawikan bahwa kekuasaan yang dipimpin Prabu Gajayana disucikan oleh sang Putikecrawa atau Mahadewa Syiwa.

Selain piagam Dinoyo, banyak lagi peninggalan sejarah yang mengindikasikan tingginya peradaban dan epik sejarah Malang. Seperti, Candi Badut yang ada pahatan Mahakala, Nadicwara, Arca Agastya, Piagam Muncang, Arca Ganesya, piagam Sukun dan lain-lainnya.

Menelusuri peta kekuasaan di tanah Jawa tidak dapat dilepaskan dari sejarah dan perkembangan ajaran Hindu dan Buddha yang dibawa oleh para Wangsa Mataram di Kedu dan Wangsa Sailendra. Gelombang kekuasaan Hindu berhembus dari arah Barat yang akhirnya menguasai seluruh daratan Jawa. Empu Sendok yang merintis berdirinya Kerajaan Medaeng (Medang) penuh dengan misi perubahan yang berlatar Hindu. Dalam perkembangannya kemudian, Kahuripan lahir sebagai wuri kerajaan Medaeng, memperbaharui implementasi tata kasta yang saat itu meminggirkan peran mayoritas rakyat, terutama kaum tani dan nelayan. Implementasi pembaharuan itu mengukuhkan seorang sosok pembangun yang dikenal dalam sejarah sebagai seorang pembebas yang bernama Sri Erlangga. Tidak heran bila burung garuda (tunggangan Dewa Wisnu) di identikkan juga dengan Erlangga. Misi ‘Magna Carta’ yang ia cetuskan dipandang seiring dengan harapan masyarakat pada konteks peradaban manusia kala itu. Tampakanya factor ini juga yang mengharuskan Malang berada dalam pengaruh Wangsa Isyana.

Timbulnya karajaan Kanjuruhan tersebut, oleh para ahli sejarah dipandang sebagai tonggak awal pertumbuhan pusat pemerintahan yang sampai saat ini, setelah 12 abad berselang, telah berkembang menjadi Kota Malang. Tahun penemuan Prasati abad 7 ini yang dipakai sebagai Hari jadi Kabupaten Malang, yang sekarang sudah berusia 1249 tahun. Dan dari Nama Raja Gajayana, Kerajaan Kanjuruhan banyak digunakan simbul-simbul kemegahan bangunan Kabupaten Malang / Kota Malang.



04/12/09

SEJARAH BENDERA MERAH PUTIH

oleh : PustakaIndonesia.com

Bila kita melihat deretan bendera yang dikibarkan dari berpuluh-puluh bangsa di atas tiang, maka terlintas di hati kita bahwa masing-masing warna atau gambar yang terdapat di dalamnya mengandung arti, nilai, dan kepribadian sendiri-sendiri, sesuai dengan riwayat bangsa masing-masing. Demikian pula dengan bendera merah putih bagi Bangsa Indonesia. Warna merah dan putih mempunyai arti yang sangat dalam, sebab kedua warna tersebut tidak begitu saja dipilih dengan cuma–cuma, melainkan melalui proses sejarah yang begitu panjang dalam perkembangan Bangsa Indonesia.

Disini penulis Kepanjen Online menghubungkan kepada proses sejarah bendera Indonesia merah-putih dengan cerita sejarah di Kepanjen Malang.

--------------------------------------------------------------------------------------

1. Menurut sejarah, Bangsa Indonesia memasuki wilayah Nusantara ketika terjadi perpindahan orang-orang Austronesia sekitar 6000 tahun yang lalu datang ke Indonesia Timur dan Barat melalui tanah Semenanjung dan Philipina. Pada zaman itu manusia memiliki cara penghormatan atau pemujaan terhadap matahari dan bulan. Matahari dianggap sebagai lambang warna merah dan bulan sebagai lambang warna putih. Zaman itu disebut juga zaman Aditya Candra. Aditya berarti matahari dan Candra berarti bulan. Penghormatan dan pemujaan tidak saja di kawasan Nusantara, namun juga di seluruh Kepulauan Austronesia, di Samudra Hindia, dan Pasifik.

2. Sekitar 4000 tahun yang lalu terjadi perpindahan kedua, yaitu masuknya orang Indonesia kuno dari Asia Tenggara dan kemudian berbaur dengan pendatang yang terlebih dahulu masuk ke Nusantara. Perpaduan dan pembauran inilah yang kemudian melahirkan turunan yang sekarang kita kenal sebagai Bangsa Indonesia.

Pada Zaman itu ada kepercayaan yang memuliakan zat hidup atau zat kesaktian bagi setiap makhluk hidup yaitu getah-getih. Getah-getih yang menjiwai segala apa yang hidup sebagai sumbernya berwarna merah dan putih. Getah tumbuh-tumbuhan berwarna putih dan getih (dalam Bahasa Jawa/Sunda) berarti darah berwarna merah, yaitu zat yang memberikan hidup bagi tumbuh-tumbuhan, manusia, dan hewan. Demikian kepercayaan yang terdapat di Kepulauan Austronesia dan Asia Tenggara.

Pada permulaan masehi selama 2 abad, rakyat di Kepulauan Nusantara mempunyai kepandaian membuat ukiran dan pahatan dari kayu, batu, dan lainnya, yang kemudian ditambah dengan kepandaian mendapat pengaruh dari kebudayaan Dong Song dalam membuat alat-alat dari logam terutama dari perunggu dan besi. Salah satu h`sil yang terkenal ialah pembuatan gendering besar dari perunggu yang disebut nekara dan tersebar hampir di seluruh Nusantara. Di Pulau Bali gendering ini disebut Nekara Bulan Pajeng yang disimpan dalam pura. Pada nekara tersebut diantaranya terdapat lukisan orang menari dengan hiasan bendera dan umbul-umbul dari bulu burung. Demikian juga di Gunung Kidul sebelah selatan Yogyakarta terdapat kuburan berupa waruga dengan lukisan bendera merah putih berkibar di belakang seorang perwira menunggang kerbau, seperti yang terdapat di kaki Gunung Dompu.


Sejak kapan bangsa-bangsa di dunia mulai memakai bendera sebagai identitas bangsanya? Berdasarkan catatan sejarah dapat dikemukakan bahwa awal mula orang menggunakan bendera dimulai dengan memakai lencana atau emblem, kemudian berkembang menjadi tanda untuk kelompok atau satuan dalam bentuk kulit atau kain yang dapat berkibar dan mudah dilihat dari jauh. Berdasarkan penelitian akan hasil-hasil benda kuno ada petunjuk bahwa Bangsa Mesir telah menggunakan bendera pada kapal-kapalnya, yaitu sebagai batas dari satu wilayah yang telah dikuasainya dan dicatat dalam daftar. Demikian juga Bangsa Cina di zaman kaisar Chou tahun 1122 sebelum masehi.

Bendera itu terikat pada tongkat dan bagian puncaknya terdapat ukiran atau totem, di bawah totem inilah diikatkan sepotong kain yang merupakan dekorasi. Bentuk semacam itu didapati pada kebudayaan kuno yang terdapat di sekitar Laut Tengah. Hal itu diperkuat juga dengan adanya istilah bendera yang terdapat dalam kitab Injil. Bendera bagi raja tampak sangat jelas, sebab pada puncak tiang terdapat sebuah symbol dari kekuasaan dan penguasaan suatu wilayah taklukannya. Ukiran totem yang terdapat pada puncak atau tiang mempunyai arti magis yang ada hubungnnya dengan dewa-dewa. Sifat pokok bendera terbawa hingga sekarang ini.
Pada abad XIX tentara napoleon I dan II juga menggunakan bendera dengan memakai lambang garuda di puncak tiang. Perlu diingat bahwa tidak semua bendera mempunyai arti dan ada hubungannya dengan religi. Bangsa Punisia dan Yunani menggunakan bendera sangat sederhana yaitu untuk kepentingan perang atau menunjukkan kehadiran raja atau opsir, dan juga pejabat tinggi negara. Bendera Yunani umumnya terdiri dari sebuah tiang dengan kayu salib atau lintang yang pada puncaknya terdapat bulatan. Dikenal juga perkataan vaxillum (kain segi empat yang pinggirnya berwarna ungu, merah, atau biru) digantung pada kayu silang di atas tombak atau lembing.

Ada lagi yang dinamakan labarum yang merupakan kain sutra bersulam benang emas dan biasanya khusus dipakai untuk Raja Bangsa Inggris menggunakan bendera sejak abad VIII. Sampai abad pertengahan terdapat bendera yang menarik perhatian yaitu bendera “gunfano” yang dipakai Bangsa Germania, terdiri dari kain bergambar lencana pada ujung tombak, dan dari sinilah lahir bendera Prancis yang bernama “fonfano”.

Bangsa Viking hampir sama dengan itu, tetapi bergambar naga atau burung, dikibarkan sebagai tanda menang atau kalah dalam suatu pertempuran yang sedang berlangsung. Mengenai lambang-lambang yang menyertai bendera banyak juga corak ragamnya, seperti Bangsa Rumania pernah memakai lambang burung dari logam, dan Jerman kemudian memakai lambang burung garuda, sementara Jerman memakai bendera yang bersulam gambar ular naga.

Tata cara pengibaran dan pemasangan bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung, kibaran bendera putih sebagai tanda menyerah (dalam peperangan) dan sebagai tanda damai rupanya pada saat itu sudah dikenal dan etika ini sampai sekarang masih digunakan oleh beberapa Negara di dunia.

3. Pada abad VII di Nusantara ini terdapat beberapa kerajaan. Di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan pulau-pulau lainnya yang pada hakikatnya baru merupakan kerajaan dengan kekuasaan terbatas, satu sama lainnya belum mempunyai kesatuan wilayah. Baru pada abad VIII terdapat kerajaan yang wilayahnya meliputi seluruh Nusantara yaitu Kerajaan Sriwijaya yang berlangsung sampai abad XII. Salah satu peninggalannya adalah Candi Borobudur , dibangun pada tahun 824 Masehi dan pada salah satu dindingnya terdapat “pataka” di atas lukisan dengan tiga orang pengawal membawa bendera merah putih sedang berkibar. Kata dwaja atau pataka sangat lazim digunakan dalam kitab jawa kuno atau kitab Ramayana. Gambar pataka yang terdapat pada Candi Borobuur, oleh seorang pelukis berkebangsaan Jerman dilukiskan dengan warna merah putih. Pada Candi Prambanan di Jawa Tengah juga terdapat lukisan Hanoman terbakar ekornya yang melambangkan warna merah (api) dan warna putih pada bulu badannya. Hanoman = kera berbulu putih. Hal tersebut sebagai peninggalan sejarah di abad X yang telah mengenal warna merah dan putih.

Prabu Erlangga, digambarkan sedang mengendarai burung besar, yaitu Burung Garuda yang juga dikenal sebagau burung merah putih. Denikian juga pada tahun 898 sampai 910 Raja Balitung yang berkuasa untuk pertama kalinya menyebut dirinya sebagai gelar Garuda Muka, maka sejak masa itu warna merah putih maupun lambang Garuda telah mendapat tempat di hati Rakyat Indonesia.

4. Kerajaan Singosari berdiri pada tahun 1222 sampai 1292 setelah Kerajaan Kediri, mengalami kemunduran. Raja Jayakatwang dari Kediri saat melakukan pemberontakan melawan Kerajaan Singosari di bawah tampuk kekuasaan Raja Kertanegara sudah menggunakan bendera merah – putih , tepatnya sekitar tahun 1292. Pada saat itu tentara Singosari sedang dikirim ke Semenanjung Melayu atau Pamelayu. Jayakatwang mengatur siasat mengirimkan tentaranya dengan mengibarkan panji – panji berwarna merah putih dan gamelan kearah selatan Gunung Kawi. Pasukan inilah yang kemudian berhadapan dengan Pasukan Singosari, padahal pasukan Singosari yang terbaik dipusatkan untuk menghadang musuh di sekitar Gunung Penanggungan. Kejadian tersebut ditulis dalam suatu piagam yang lebih dikenal dengan nama Piagam Butak. Butak adalah nama gunung tempat ditemukannya piagam tersebut terletak di sebelah selatan Kota Mojokerto. Pasukan Singosari dipimpin oleh R. Wijaya dan Ardaraja (anak Jayakatwang dan menantu Kertanegara). R. Wijaya memperoleh hadiah sebidang tanah di Desa Tarik, 12 km sebelah timur Mojokerto. Berkibarlah warna merah – putih sebagai bendera pada tahun 1292 dalam Piagam Butak yang kemudian dikenal dengan piagam merah – putih, namun masih terdapat salinannya. Pada buku Paraton ditulis tentang Runtuhnya Singosari serta mulai dibukanya Kerajaan Majapahit dan pada zaman itu pula terjadinya perpaduan antara Ciwaisme dengan Budhisme.

5. Demikian perkembangan selanjutnya pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, menunjukkan bahwa putri Dara Jingga dan Dara Perak yang dibawa oleh tentara Pamelayu juga mangandung unsur warna merah dan putih (jingga=merah, dan perak=putih). Tempat raja Hayam Wuruk bersemayam, pada waktu itu keratonnya juga disebut sebagai keraton merah – putih, sebab tembok yang melingkari kerajaan itu terdiri dari batu bata merah dan lantainya diplester warna putih. Empu Prapanca pengarang buku Negarakertagama menceritakan tentang digunakannya warna merah – putih pada upacara kebesaran Raja Hayam Wuruk. Kereta pembesar – pembesar yang menghadiri pesta, banyak dihiasi merah – putih, seperti yang dikendarai oleh Putri raja Lasem. Kereta putri Daha digambari buah maja warna merah dengan dasar putih, maka dapat disimpulkan bahwa zaman Majapahit warna merah – putih sudah merupakan warna yang dianggap mulia dan diagungkan. Salah satu peninggalan Majapahit adalah cincin warna merah putih yang menurut ceritanya sabagai penghubung antara Majapahit dengan Mataram sebagai kelanjutan. Dalam Keraton Solo terdapat panji – panji peninggalan Kyai Ageng Tarub turunan Raja Brawijaya yaitu Raja Majapahit terakhir. Panji – panji tersebut berdasar kain putih dan bertuliskan arab jawa yang digaris atasnya warna merah. Hasil penelitian panitia kepujanggaan Yogyakarta berkesimpulan antara lain nama bendera itu adalah Gula Kelapa . dilihat dari warna merah dan putih. Gula warna merah artinya berani, dan kelapa warna putih artinya suci.

6. Di Sumatra Barat menurut sebuah tambo yang telah turun temurun hingga sekarang ini masih sering dikibarkan bendera dengan tiga warna, yaitu hitam mewakili golongan penghulu atau penjaga adat, kuning mewakili golongan alim ulama, sedangkan merah mewakili golongan hulu baling. Ketiga warna itu sebenarnya merupakan peninggalan Kerajaan Minang pada abad XIV yaitu Raja Adityawarman. Juga di Sulawesi di daerah Bone dan Sopeng dahulu dikenal Woromporang yang berwarna putih disertai dua umbul – umbul di kiri dan kanannya. Bendera tersebut tidak hanya berkibar di daratan, tetapi juga di samudera , di atas tiang armada Bugis yang terkenal. Bagi masyarakat Batak terdapat kebudayaan memakai ulos semacam kain yang khusus ditenun dengan motif tersendiri. Nenek moyang orang Batak menganggap ulos sebgai lambang yang akan mendatangkan kesejahteraan jasmani dan rohani serta membawa arti khusus bagi yang menggunakannya. Dalam aliran animisme Batak dikenal dengan kepercayaan monotheisme yang bersifat primitive, bahwa kosmos merupakan kesatuan tritunggal, yaitu benua atas dilambangkan dengan warna merah dan benua bawah dilambangkan dengan warna hitam. Warna warna ketiga itu banyak kita jumpai pada barang-barang yang suci atau pada hiasan-hiasan rumah adat. Demikian pula pada ulos terdapat warna dasar yang tiga tadi yaitu hitam sebagai warna dasar sedangkan merah dan putihnya sebagai motif atau hiasannya. Di beberapa daerah di Nusantara ini terdapat kebiasaan yang hampir sama yaitu kebiasaan memakai selendang sebagai pelengkap pakaian kaum wanita. Ada kalanya pemakaian selendang itu ditentukan pemakaiannya pada setiap ada upacara – upacara, dan sebagian besar dari moti-motifnya berwarna merah dan putih.

7. Ketika terjadi perang Diponegoro pada tahun 1825-1830 di tengah – tengah pasukan Diponegoro yang beribu – ribu juga terlihat kibaran bendera merah – putih, demikian juga di lereng – lereng gunung dan desa - desa yang dikuasai Pangeran Diponegoro banyak terlihat kibaran bendera merah - putih. Ibarat gelombang samudera yang tak kunjung reda perjuangan Rakyat Indonesia sejak zaman Sriwijaya, Majapahit, putra – putra Indonesia yang dipimpin Sultan Agung dari Mataram, Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten, Sultan Hasanudin, Sisingamangaraja, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Pangeran Antasari, Pattimura, Diponegoro dan banyak lagi putra Indonesia yang berjuang untuk mempertahankan kedaulatan bangsa, sekalipun pihak penjajah dan kekuatan asing lainnya berusaha menindasnya, namun semangat kebangsaan tidak terpadamkan.

Pada abad XX perjuangan Bangsa Indonesia makin terarah dan menyadari akan adanya persatuan dan kesatuan perjuangan menentang kekuatan asing, kesadaran berbangsa dan bernegara mulai menyatu dengan timbulnya gerakan kebangsaan Budi Utomo pada 1908 sebagai salah satu tonggak sejarah.

Kemudian pada tahun 1922 di Yogyakarta berdiri sebuah perguruan nasional Taman Siswa dibawah pimpinan Suwardi Suryaningrat. Perguruan itu telah mengibarkan bendera merah putih dengan latar dasar warna hijau yang tercantum dalam salah satu lagu antara lain : Dari Barat Sampai ke Timur, Pulau-pulau Indonesia, Nama Kamu Sangatlah Mashur Dilingkungi Merah-putih. Itulah makna bendera yang dikibarkan Perguruan Taman Siswa.
Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang – pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran.
Para mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia yang berada di Negeri Belanda pada 1922 juga telah mengibarkan bendera merah – putih yang di tengahnya bergambar kepala kerbau, pada kulit buku yang berjudul Indonesia Merdeka. Buku ini membawa pengaruh bangkitnya semangat kebangsaan untuk mencapai Indonesia Merdeka.

Demikian seterusnya pada tahun 1927 berdiri Partai Nasional Indonesia dibawah pimpinan Ir. Soekarno yang bertujuan mencapai kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia. Partai tersebut mengibarkan bendera merah putih yang di tengahnya bergambar banteng.

Kongres Pemuda pada tahun 1928 merupakan detik yang sangat bersejarah dengan lahirnya “Sumpah Pemuda”. Satu keputusan sejarah yang sangat berani dan tepat, karena kekuatan penjajah pada waktu itu selalu menindas segala kegiatan yang bersifat kebangsaan. Sumpah Pemuda tersebut adalah tidak lain merupakan tekad untuk bersatu, karena persatuan Indonesia merupakan pendorong ke arah tercapainya kemerdekaan. Semangat persatuan tergambar jelas dalam “Poetoesan Congres Pemoeda – Pemoeda Indonesia” yang berbunyi :

Pertama :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE
BERTOEMPAH DARAH YANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

Kedua :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE
BERBANGSA YANG SATOE, BANGSA INDONESIA